News

Akhirnya, Bantuan Kemanusiaan Pertama untuk Tonga Bisa Dikirim Setelah 5 Hari Erupsi

Penerbangan itu dilakukan lima hari usai bencana ganda erupsi dan tsunami memutuskan Tonga dari seluruh dua. 


Akhirnya, Bantuan Kemanusiaan Pertama untuk Tonga Bisa Dikirim Setelah 5 Hari Erupsi
Angkatan Udara Australia (RAAF) C-130J Hercules meninggalkan Pangkalan RAAF Richmond, pada Selasa (18/1), untuk melakukan penilaian kerusakan infrastruktur penting di Tonga ( AFP/RAAF)

AKURAT.CO Penerbangan pertama yang mengangkut bantuan kemanusiaan akhirnya bisa diupayakan, dan kini dilaporkan sedang dalam perjalanan ke Tonga. 

Seperti diwartakan CNA, penerbangan itu dilakukan lima hari usai bencana ganda erupsi dan tsunami memutuskan Tonga dari seluruh dua. 

Para pejabat di Australia dan Selandia Baru mengonfirmasi penerbangan bantuan kemanusiaan itu. Kedua negara itu mengungkap bahwa dua pesawat angkut militer akan tiba dalam beberapa jam di bandara utama Tonga yang baru saja dibersihkan dari abu.

baca juga:

"(Pesawat) C17 Globemaster berangkat dari Pangkalan Bandara Amberley sekitar pukul 7 pagi hari ini," kata seorang pejabat pertahanan Australia kepada AFP, dengan Selandia Baru juga mengonfirmasi pesawatnya, C-130 Hercules sedang dalam perjalanan setelah beberapa hari penundaan.

Baik penerbangan dari Australia dan Selandia Baru, keduanya akan membawa perlengkapan kemanusiaan dan peralatan telekomunikasi untuk Tonga.

Jaringan berita dan komunikasi dari Tonga menjadi sangat terbatas karena bencana akhir pekan lalu telah merusak kabel komunikasi bawah laut. Karena keterbatasan komunikasi itu jugalah, dampak bencana dari Tonga belum bisa dilihat jelas. Begitu pula dengan upaya kemanusiaan yang ikut terganggu. 

Beberapa waktu lalu, warga Tonga mulai membersihkan landasan pacu dari selimut tebal abu vulkanik, mencoba memuluskan jalan untuk penerbangan bantuan di area Bandara Internasional Fua'amotu.

Partikel abu dapat menjadi racun dan menjadi ancaman bagi pesawat jet modern, termasuk melelehkan mesin dan terakumulasi di dalamnya.

Situasi yang buruk di bandara Tonga juga telah dikonfirmasi oleh Koordinator Krisis PBB Jonathan Veitch. Pada Rabu (19/1) malam, Veitch mengungkap bahwa landasan pacu di pulau utama kerajaan Pasifik itu terkubur dalam abu dengan tebal mencapai 5-10 cm. Bandara itu pun kini akhirnya kembali beroperasi setelah kerja keras warga Tonga berhari-hari dalam membersihkan landasan.

Bantuan termasuk air untuk warga Tonga

Palang Merah Australia/AAP/dpa/picture alliance via DW

Menurut PBB pada Rabu, lebih dari 80 persen dari 100 ribu penduduk Tonga terkena dampak dari bencana, dan penilaian awal menunjukkan kebutuhan mendesak untuk air minum.

Ketika kaldera bawah laut meledak, ia menembakkan puing-puing sejauh 30 km ke udara, menyimpan abu dan hujan asam, mengguyur seluruh Tonga, lalu meracuni persediaan air di sana.

"Pasokan air di seluruh Tonga sangat terpengaruh oleh hujan abu dan air asin dari tsunami," kata Katie Greenwood dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Greenwood menambahkan adanya 'risiko penyakit yang meningkat seperti kolera dan diare'.

Australia dan Selandia Baru telah menanggapi krisis itu dengan ikut mengirimkan bantuan berupa air. Mereka mengaku telah mengangkut pasokan air dan sarana desalinasi dengan produksi 70 ribu liter per hari. Kedua negara itu juga telah mengumumkan pengerahan personel hidrografi hingga penyelam angkatan laut untuk mensurvei saluran pelayaran.

Australia dan Selandia Baru juga mengirimkan bantuan melalui laut, dengan kapal Angkatan Laut Selandia Baru HMNZS Wellington dan HMNZS Aotearoa diperkirakan akan tiba di perairan Tonga pada Jumat (21/1). Kapal bantuan militer Australia HMAS Adelaide, sementara itu, telah bersiaga di Brisbane.

Menyusul Australia dan Selandia Baru, China juga mengatakan akan mengirim pasokan darurat.

Sementara bantuan tengah dikirim, muncul kekhawatiran akan pasokan makanan di pulau itu, dengan berlinang air mata, ketua majelis nasional Fatafehi ​​Fakafanua mengatakan 'semua pertanian hancur'.

Baca Juga: Tonga Akhirnya Rilis Pernyataan Resmi Soal Letusan Gunung Bawah Laut

Perbaikan sambungan kabel bawah laut memakan waktu sebulan

Letusan Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai pada Sabtu (15/1) pekan lalu adalah salah satu erupsi paling kuat dalam beberapa dekade. Letusan itu berhasil melepaskan gelombang tekanan yang melintasi planet Bumi, bergerak dengan kecepatan supersonik sekitar 1.230 km per jam, kata Institut Penelitian Air dan Atmosfer Nasional Selandia Baru.

Pemerintah Tonga yang kewalahan, mengamini dahsyatnya bencana tersebut, menyebutnya sebagai 'bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya'. Tonga juga mengonfirmasi bahwa gelombang setinggi 15 meter yang dipicu oleh erupsi telah menghancurkan hampir setiap rumah di beberapa pulau terpencil di kerajaannya.

Selain memicu tsunami, letusan juga akhirnya memutuskan kabel komunikasi bawah laut penting yang menghubungkan Tonga dengan seluruh dunia. 

Sementara sebagian komunikasi dapat mulai dipulihkan pada Rabu, penyedia jaringan telepon seluler Digicel mengatakan bahwa tingginya jumlah panggilan ke Tonga telah memicu penundaan.

Diperkirakan paling tidak satu bulan sebelum sambungan kabel bawah laut pulih sepenuhnya.

Negara-negara tetangga, sementara itu, hanya bisa mengandalkan penerbangan pengawasan dan citra satelit untuk menilai skala bencana.

Gambar terbaru menunjukkan area yang luas tertutup abu, jalan tergenang, tembok roboh, dan bangunan hancur, serta perairan terbuka di mana sebagian besar struktur vulkanik berdiri di atas permukaan laut sebelum letusan.

Di sisi  lain, laporan menunjukkan tiga orang tewas akibat bencana Tonga. Namun, diperkirakan jumlah korban sebenarnya  jauh lebih tinggi. 

Seorang wanita berusia 65 tahun di Mango adalah satu dari tiga orang yang dipastikan tewas. Yang lain adalah seorang pria berusia 49 tahun dan seorang warga negara Inggris. Beberapa cedera juga telah dilaporkan.

Palang Merah mengumumkan bahwa pihaknya telah menghubungi timnya di Tonga melalui telepon satelit pada Rabu. Organisasi tersebut mengirim tim darurat ke pulau-pulau yang terkena dampak parah seperti Mango, Fonoifua, dan Namuka.