Rahmah

Akhirnya Abu Nawas Berhasil Duduki Singgasana Raja, Begini Awalnya

Suatu waktu, Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda untuk menjawab sebuah pertanyaan sulit.


Akhirnya Abu Nawas Berhasil Duduki Singgasana Raja, Begini Awalnya
Ilustrasi Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Karena cuaca pagi itu cukup cerah, Abu Nawas ingin menikmati secangkir kopi hangat. Ia lalu berjalan menuju warung kopi langganannya yang tidak jauh dari rumahnya. 

Setibanya di warung, kebetulan di situ sudah ada kawan-kawan Abu Nawas yang sedang asik berbincang. Abu Nawas segera memesan secangkir kopi hangat dengan dua sendok gula. Tidak lama kemudian, kopi pesanannya pun datang dan diletakkan di atas meja Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas, ceritakan oleh-oleh dari Istana kemarin?" tanya seorang di antara mereka membuka percakapan.

"Tidak ada," jawab Abu Nawas yang sedang asyik mengaduk kopi hangat itu dengan tampak tak berselera. 

"Kalau begitu, berikan sedikit nasihat kepada kami wahai Abu Nawas," desak temannya yang lain.

"Kebenaran adalah sesuatu yang berharga," celetuk Abu Nawas sembari menyeruput kopinya dengan hati-hati.

Kali ini, raut wajah Abu Nawas terlihat serius. "Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material," lanjutnya. 

"Tetapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran? Terkadang harganya sangat mahal pula," potong salah seorang di antara mereka yang rupanya dari tadi hanya asyik menyimak perkataan Abu Nawas. 

"Kalau engkau perhatikan, harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kualitas dan kelangkaannya. Semakin langka sesuatu itu, maka semakin mahal pula harganya," jelas Abu Nawas.

Semua orang dalam warung hanya bisa menganggung-angguk. Mereka menganggap jika nasihat Abu Nawas ada benarnya.

Belum juga Abu Nawas menghabiskan kopinya, tiba-tiba datang utusan kerajaan. "Wahai Abu Nawas, Baginda memanggil," ujar sang utusan kepada Abu Nawas tanpa basa-basi. 

Ternyata utusan raja tersebut sebelumnya sudah mendatangi rumah Abu Nawas. Sehingga sang istri memberi tahu jika suaminya sedang berada di warung kopi langganannya. 

Tanpa ada persiapan apapun, Abu Nawas mendatangi istana dengan pakaian seadanya. Ternyata, di istana kerajaan sejumlah orang sudah berkumpul. Baginda Raja Harun Ar-Rasyid tampak duduk berwibawa di singgasananya.

"Oh, rupanya sejumlah ulama dan tokoh agama sedang dikumpulkan raja," pikir Abu Nawas saat itu 

Begitu melihat Abu Nawas, Baginda langsung memanggilnya. "Sini maju ke depan, Wahai Abu Nawas," titah Baginda. 

Abu Nawas pun dengan sigap menuju ke depan. Setelah duduk di bagian depan, tanpa basa-basi lagi Khalifah Harun Ar-Rasyid bertanya kepada Abu Nawas, 

"Ketahuilah, jika para ulama di sini tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan saya," kata Baginda.

"Baiklah, jika begitu, apa yang mesti hamba lakukan Baginda Raja mulia?" tanya Abu Nawas. 

Diketahui, sepulang salat subuh berjamaah, Khalifah sedikit sempat bertanya kepada para tokoh agama itu. "Allah itu lagi di mana dan sedang apa?" tanya Baginda saat itu.

Akan tetapi, semua ulama yang ada saat itu tidak berani menjawab pertanyaan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Para ulama itu berfikir masa pertanyaan kok Allah sekarang lagi apa?

Abu Nawas yang masih menyimak pertanyaan Baginda kemudian berkata, "Saya bisa menjawab tapi ada syaratnya,".

"Katakan saja apa syarat itu?" tanya Baginda sedikit terkejut. 

"Jika Baginda berkenan, saya duduk di kursi singgasana Baginda dan Baginda duduk di bawahnya," jawab Abu Nawas. 

Karena dihantui oleh perasaan yang besar, Baginda kemudian mengabulkan apa yang diinginkan Abu Nawas. Karena memang Baginda sangat membutuhkan jawaban dari seorang Abu Nawas.

Kemudian Abu Nawas duduk di singgasana sedangkan Baginda Harun Ar-Rasyid duduk di bawahnya dan Abu Nawas berkata: "Allah sedang mengangkat Abu Nawas menjadi Raja dan Harun Ar-Rasyid menjadi rakyat biasa,". []