Ekonomi

Akademisi Unpad Beberkan Sejumlah Tantangan Ekonomi Indonesia

Akademisi Unpad Beberkan Sejumlah Tantangan Ekonomi Indonesia
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran (FEB Unpad) Bandung, Prof. Nunuy Nur Afiah (Screen Shoot)

AKURAT.CO Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran (FEB Unpad) Bandung, Prof. Nunuy Nur Afiah menyebutkan, situasi dan kondisi di tahun 2022 cukup menantang bagi kinerja pemulihan ekonomi Indonesia. 

Pada sisi domestik, lanjut dia, masalah kesehatan masih menjadi tantangan terutama ketika Indonesia dihadapkan pada situasi dimana varian Omicron merajalela di awal tahun. Meski demikian, kesiapan Indonesia menghadapi Omicron sudah jauh lebih baik dibandingkan saat menghadapi varian Delta. 

"Sementara itu, dari sisi internasional, tekanan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang semakin meningkat juga menjadi tantangan bagi kinerja pemulihan ekonomi nasional serta ancaman depresi. Merebaknya COVID-19 telah sangat menghambat operasi ekonomi global," kata Nunuy Nur Afiah dalam webinar bertajuk 'Strategi ASEAN dalam Pemulihan Ekonomi Regional' yang digelar oleh Magister Ekonomi Terapan (MET) FEB UNPAD bersama Kementerian Luar Negeri RI, pekan lalu. 

baca juga:

Menurut data resmi Bank Dunia (Juni 2020), pandemi ini diperkirakan akan menyebabkan kontraksi 5,2% dari PDB global. Mulai Desember 2019, Covid-19 telah menyebar ke seluruh dunia dalam skala terbatas selama seperempat hingga Maret 2020 ketika jumlah kematian di negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akhirnya mulai meningkat. 

"Namun, meskipun wabah relatif terlambat di kawasan itu, pasar ASEAN telah jatuh bersama dengan pasar regional lainnya di seluruh dunia di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari pembunuh virus terbesar pada tahun 2020," ujarnya. 

Selain wabah covid-19 yang melanda seluruh Dunia, menurut Prof. Nunuy, konflik Rusia-Ukraina menjadi tantangan selanjutnya yang harus dihadapi bersama-sama oleh seluruh negara tidak terkecuali negara-negara di kawasan ASEAN.  

Menurutnya, konflik tersebut telah menyebabkan kenaikan harga komoditas secara eksponensial, mengingat kedua negara yang bertikai merupakan pengekspor utama bahan bakar fosil, biji-bijian, pupuk, dan logam. Bahkan tidak dapat terbantahkan, gangguan pasokan komoditas akibat invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 berdampak drastis pada perekonomian global, termasuk di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina. 

"Selain itu, konflik Rusia-Ukraina itu akan menyebabkan harga energi dan makanan global naik masing-masing sebesar 50% dan 20% pada tahun 2022," terangnya. 

Direktur Kerjasama Ekonomi ASEAN   Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia, Berlianto Situngkir membeberkan lima upaya membantu pemulihan ekonomi di Kementerian Luar Negeri. Pertama, membentuk Tim Khusus Ekonomi. "Sejak bulan Juli 2020, Kemenlu membentuk Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi (TPPE), sebuah kelompok kerja non-struktural yang bertugas memetakan potensi dan memanfaatkan peluang ekonomi di tengah pandemi Covid-19," katanya. 

Kedua, bekerja sama/gotong royong dimana TPPE senantiasa menjalin kerja sama dengan kementerian/lembaga milik Pemerintah Indonesia, terutama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, dan Kementerian Investasi (BKPM). 

Ketiga, melakukan diplomasi Vaksin. Keempat, BUMN Go Global, yaitu program kerja sama antara Kemlu dan Kementerian BUMN bertujuan untuk meningkatkan status Indonesia dari target pasar, menjadi pemimpin pada rantai pasok global. 

"BUMN Go Global juga ditujukan untuk memasarkan produk-produk BUMN di kancah internasional," katanya. 

Kelima, pengakuan sertifikat vaksinasi. Pada bulan Mei 2022, pemerintah Indonesia dan Uni Eropa resmi bekerja sama lewat pengakuan sertifikat vaksinasi Covid-19 melalui aplikasi PeduliLindungi dan EU Digital Covid Certificate (EU DCC). 

Berliato Situngkir mengatakan, ASEAN bertujuan untuk mempromosikan kerja sama antar pemerintah dan memfasilitasi integrasi ekonomi, politik, keamanan, militer, pendidikan dan sosial budaya di antara para anggotanya dan negara-negara lain di Asia. 

"Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah memimpin integrasi ekonomi dalam banyak perubahan struktural dalam ekonomi dunia," ujarnya. 

Dalam merespon pandemic covid-19, kata dia, ASEAN memperkuat ASEAN Economic Community (AEC) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan mega Free Trade Area (FTA) di Kawasan Asia Timur yang pertama. 

"Penguatan MEA dan RCEP merupakan strategi yang digunakan oleh ASEAN selama dan di era pasca-pandemi," tukasnya.[]