Rahmah

Akademisi STAI Nurul Iman Parung: Islam Tegas Melarang Perkawinan Beda Agama

Akademisi STAI Nurul Iman Parung: Islam Tegas Melarang Perkawinan Beda Agama
Ali Mutakin Dosen STAI Nurul Iman Parung Bogor (Tangkapan Layar Webinar)

AKURAT.CO, Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Iman Parung Bogor, Ali Mutakin, menyatakan bahwa pernikahan beda agama haram dilakukan. Demikian disampaikan oleh Alumni Pondok Pesantren Al-Ashriyyah, Parung, Bogor itu dalam kegiatan Webinar Nikah Beda Agama Perspektif Agama & Sosial yang diselenggarakan atas kerjasama antara STAI Nurul Iman dan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo (31/01/22).

Melandasi dalil dengan QS. al-Baqarah [2]: 221 dan QS. al-Mumtahanah [60]: 10, Ali menegaskan bahwa para ulama telah bersepakat wanita Muslimah tidak boleh atau haram dinikahkan dengan laki-laki non-Muslim, baik itu kelompok Musyrik maupun Ahl al-Kitâb.

Ali juga menambahkan bahwa larangan menikah berbeda agama berlaku juga antara laki-laki Muslim dengan wanita Musyrik.

baca juga:

“Berdasarkan QS. al-Baqarah [2]: 221, para ulama sepakat bahwa laki-laki Muslim dilarang menikahi wanita-wanita Musyrik (penyembah berhala),” tambahnya.

Larangan pernikahan beda agama ini menurutnya tidak hanya tercatat dalam nash Al-Qur’an. Berbagai riwayah hadits Nabi dan sahbatnya pun tegas melarang pernikahan yang madhorotnya cukup besar itu. Seperti madhorot agama, keturunan, dan lainnya.

“Sayyidina Umar pun melarang perkawinan berbeda agama, karena akan banyak madhorot yang ditimbulkan dari sisi keagamaan, seperti pasangan yang keluar agamanya karena mengikuti agama pasangannya,” kata Dosen Prodi Akhwal Al-Syakhsiyah STAI Nurul Iman Parung Bogor itu.

Selain itu, pria yang juga merupakan Kepala Akademik STAI Nurul Iman ini menegaskan para ulama di Indonesia pun telah sepakat untuk melarang kegiatan pernikahan berbeda agama.

“NU melalui keputusan Mu’tamar Keempat Jam’iyah Thoriqoh Mu’tabarah di Semarang tgl. 4-7 Sya’ban 1388H. / 28-30 1968 M, tegas memutuskan, tidak sah perkawinan seorang Muslim dengan perempuan Kristen yang tidak diketahui masuknya orang tua sebelum diutus Nabi Muhammad Saw. Jika perempuan itu masuk Islam dalam akad nikah pertama, maka menjadi Murtad dengan akad nikah kedua sebelum dukhul (bersetubuh) sehingga akad nikah yang pertama menjadi batal,” katanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), lanjut Ali, juga melarangnya, sebagaimana fatwa majelis ulama indonesia nomor: 4/MUNAS VII/MUI//2005. Pun demikian dengan keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke-22 tahun 1989 di Malang Jawa Timur dan jawaban dari TIM Tarjih atas sebuah pertanyaan dari Jawa Tengah, yang disidangkan pada hari Jumat 20 Syakban 1432 H / 22 Juli 2011 M.

“Secara umum dalam perspektif agama Islam, pernikahan beda agama hukumnya haram. Ulama Indonesia, baik dari NU, MUI, Muhammadiyah, telah melarang secara jelas melalui keputusan dan atau fatwanya,” pungkasnya.[]