News

Akademisi Sebut Kota Palembang Zero Conflict

Memang Masyarakat Sumsel dikenal sumbu pendek dalam urusan personal. Tetapi tidak mudah tersukut menyangkut urusan komunal


Akademisi Sebut Kota Palembang Zero Conflict
Bincang Hikmah

AKURAT.CO, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Palembang Dr. Ahmad Syarifuddin mengungkap bagaimana moderasi beragama terjadi di Kota Pelembang, dan Sumatera Selatan umumnya. Namun kondisi tersebut tidak langsung terjadi begitu saja namun peran serta banyak komponen, mulai dari tokoh masyarakat, pemerintah, dan akademisi.

"Saya bangga karena kondisi ini terjadi bukan begitu saja, tentu ada peran alumni IAIN Raden Fatah Pelembang yang sekarang menyebar ke berbagai lini," terang Ahmad Syarifuddin dalam Bincang Hikmah, Rabu (3/6/2021).

Bincang Hikmah diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Palembang dan Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI) bersama Akurat.co. 

Hal senada disampaikan Dosen PMI UIN Palembang Dr Komaruddin. Dia menjelaskan hampir tidak ditemukan konflik sosial berlatar belakang agama di Palembang dan Sumsel. 

Padahal dari komposisi penduduk mayoritas penduduknya beragama Islam. Tapi gereja, vihara banyak berdiri di pusat kota. Tapi tidak ada catatan ada gangguan.

"Ini menarik karena komposisinya lebih dari 50 persen penduduknya memeluk Islam," kata Komaruddin.

Komaruddin mengatakan, dari latar belakang politik, pada pemilu pertama partai Islam di Pelembang juaranya dengan meyakinkan dengan suara 43 persen ditambah partai lain sekitar 3 persen.

Lalu pada 2019, dimana terjadi pembelahan dukungan. Pabowo-Sandi dapat suara 59 persen. Sementara Jokowi-Amin hanya 40 persen. 

Namun ternyata tidak minimbulkan gesekan berlarut-larut. "Mengapa hal itu tidak terjadi? Karena tidak ada suku yang dominan," kata Komaruddin. 

Dia juga mengatakan bahwa Masyarakat Palembang juga rasional. Meski dikenal sumbu pendek dalam urusan personal, tetapi tidak mudah tersulut menyangkut urusan komunal. 

"Isu agama tidak laku digoreng di sini," kata Komaruddin. []