News

Akademisi Dorong Pengadilan Internasional Tuntaskan Kasus Pembunuhan 39 Warga Sipil Afganistan

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Amany Burhanuddin Umar Lubis berharap keluarga korban kejahatan perang Afganistan segera mendapatkan keadilan.


Akademisi Dorong Pengadilan Internasional Tuntaskan Kasus Pembunuhan 39 Warga Sipil Afganistan
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

AKURAT.CO  Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Amany Burhanuddin Umar Lubis berharap keluarga korban kejahatan perang Afganistan segera mendapatkan keadilan. Anggota pasukan khusus Australia yang terlibat pembunuhan warga sipil Afghanistan selama perang Afghanistan diharapkan bisa dihukum lantaran melakukan kejahatan sadis terhadap warga sipil. 

Pernyataan itu dia sampaikan saat menjadi keynote speak pada webinar bertajuk "menyoal pelanggaran HAM Militer Di Afhanistan" Selasa (4/5/21?) katanya dalam siaran persnya. Dia mengatakan, banyak laporan menyebutkan bahwa sepanjang 2013-2019, pasukan khusus Australia membunuh 39 orang Afganistan selama ikut dalam operasi di Afganistan. 

"Pengadilan kriminal internasional sudah menyetujui untuk dijadikannya kasus untuk diadili di mahkamah internasional," kata Amany saat menyampaikan keynote speak. 

Kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan pertahanan Australia itu, kata dia, semakin sadis lantaran korban pembunuhan itu bukanlah pejuang Afganistan atau kelompok bersenjata di Afganistan. Mereka, 39 orang tersebut, merupakan warga sipil biasa yang berprofesi sebagai petani. 

"Mereka ditangkap dan diperlakukan kejam hingga wafat dan ada yg jasadnya dibuang begitu saja sehingga ini terlihat pelanggaran HAM," katanya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Sementara itu Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie dalam catatan pengantar seminar mengatakan, dalam kasus di Afghanistan, militer Australia telah menemukan 13 anggota pasukan khusus telah melakukan pembunuhan tanpa justifikasi (unlawfull killing) terhadap 39 tawanan dan warga sipil di Afghanistan. Apapun motifnya, aksi itu termasuk didorong budaya warrior, tindakan ini tidak dapat dibenarkan. 

"Kasus ini harus didorong untuk dibawa ke dalam Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC). Dalam Statuta Roma tentang Pengadilan Pidana Internasional, apa yang dilakukan pasukan khusus Australia itu masuk kategori Kejahatan Perang," ujarnya.