News

Akademisi Bicara Peran Pekerja Sosial Atasi Dampak Pandemi COVID-19

Profesi pekerjaan sosial bisa ikut terlibat dalam mengatasi dampak pendemi COVID-19


Akademisi Bicara Peran Pekerja Sosial Atasi Dampak Pandemi COVID-19
Dosen Jurusan Kesejahteraan Sosial FDIK UIN Jakarta Siti Napsiyah

AKURAT.CO, Masih tingginya kasus COVID-19 di Indonesia harus mendapat perhatian serius dari semua pihak. Tak hanya pemerintah, tapi juga kehadiran pekerja sosial profesional dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat soal bagaimana mencegah penularan virus ini.  

Menurut Dosen Jurusan Kesejahteraan Sosial FDIK UIN Jakarta Siti Napsiyah mengatakan, profesi pekerjaan sosial bisa ikut terlibat dalam mengatasi dampak pendemi COVID-19. Misalnya memberikan pertolongan dukungan psikososial, psikoterapi dan rehabilitasi. 

Dia menyontohkan temannya yang mengomandoi Program Keluarga Harapan (PKH). Dalam program itu, peran pekerja sosial diposisikan sebagai supervisor.  

"Kami bisa masuk di level mikro, di level keluarga dan komunitas, bahkan di level kebijakan," kata Siti Napsiyah dalam acara Bincang Hikmah, Kamis (10/6/2021).

Program Bincang Hikmah diselenggarakan atas kerjasama AKURAT.CO dan Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) FIDKOM UIN Jakarta bertema Islam dan Pekerjaan Sosial.

Siti Napsiyah lebih jauh menjelaskan, peran kerja sosial di tengah pandemi ini bisa lebih dari hal medis. Di antaranya dengan memberikan kesadaran kepada masyarakat soal pentingnya menjalankan protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran COVID-19. 

Peran pekerja sosial profesional harus bisa lebih masuk dari masalah medis. Yakni bagaimana prokes bisa mengubah perilaku. 

"Esensi dari profesi ini untuk membantu mereka, untuk selesaikan masalah mereka. Gimana mau sejahtera, mau kaya dan makmur kalau mereka gak sehat," kata Siti Napsiyah yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik ini. 

Karena itu, pencegahan COVID tak hanya dari sisi medis. Namun juga ada dukungan psikososial dengan poster-poster, kampanye dan diskusi. Bisa juga dengan tulisan dan video yang sifatnya tidak hanya berhenti diedukasi tapi ke refleksi untuk perubahan perilaku.

Diakui Siti Napsiyah, tak gampang mengenalkan 3M kepada masyarakat. Namun dengan pengetahuan pekerja sosial di bidang antropologis-sosiologis masyarakat Indonesia bisa masuk mengenalkan pentingnya Prokes. 

Misalnya dari sisi budaya soal bersih diri dalam agama khususnya agama Islam dikenal dengan istilah thaharah.  

"Kita masuk disitu bahwa bersih diri bagian penting, tidak hanya ibadah tapi untuk ini (cegah COVID)," terang Siti Napsiyah. []

Arief Munandar

https://akurat.co