Rahmah

Akademisi Bicara Moderasi Beragama di Tunisia

Saat ini, Tunisia sedang menatap masa depan yang lebih cerah dengan mejadi negara yang modern, demokratis, toleran, dan maju seperti tetangga dekatnya.


Akademisi Bicara Moderasi Beragama di Tunisia
Bincang Hikmah "Islam di Tunisia"

AKURAT.CO Tunisia merupakan negara di Afrika Utara yang 98 persen penduduknya beragama Islam. Secara geografis, Tunisia menjadi penghubung antara negara-negara di timur dengan Negara Eropa.

Tak hanya itu, Tunisia juga merupakan pintu masuk bagi pengembangan dakwah Islam ke Eropa. Meskipun mayoritas penduduk Tunisia adalah umat muslim, namun kenyataannya baru sekitar delapan tahun mereka bisa bebas menunjukkan identitasnya sebagai muslim pasca lengsernya Ben Ali dari Presiden.

Saat ini, Tunisia sedang menatap masa depan yang lebih cerah. Negara yang menggunakan bahasa Arab dan Prancis sebagai bahasa resminya ini ingin menjadi negara muslim modern, demokratis, toleran, dan maju seperti tetangga dekatnya, Eropa.

Seperti yang dijelaskan Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta Al Ustadz Ahmadih Rojali Jawab, Ph D mengatakan bahwa negara Tunisia menekankan modernitas dan toleransi sehingga dapat mewujudkan pencerahan terhadap agama.

Dia mengatakan jika di Tunisia, antara akidah dan syariat, lebih mengedepankan akhlak, ekita dan moral. Sehingga ketika masuk kepada muamalah duniawi atau menjalin hubungan interaksi dengan negara lain, Tunisia selalu mendahulukan dialog, toleransi dan sebagainya.

"Moderasi dalam mengekspresikan kehidupan sehari-hari sudah ada sejak awal, karena toleransi menjadi ciri khas bagi negara Tunisia," kata Ahmadih Rojali Jawab dalam acara Bincang Hikmah, Kamis (22/7/2021).

Acara yang mengusung tema "Islam di Tunisia ini" diselenggarakan atas kerjasama AKURAT.CO dan Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom) UIN Jakarta.

Ahmadih Rojali Jawab lebih jauh menjelaskan, jika di Tunisia, antara rumah dengan rumah atau orang dengan orang lain yang mempunyai perbedaan, namun perbedaan itu dapat ditolerir dengan pemahaman yang baik dan benar.

Di juga mengatakan bahwa Tunisia mampu memberikan subsidi baik segi pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi. Ia memberi contoh jika tingkat kemakmuran di Tunisia bisa terasa bagi pelajar Indonesia yaitu mereka bisa mendapatkan beasiswa di jenjang strata S1, S2 maupun S3.

"Meskipun ada diantara pelajar Indonesia kuliah di kampus yang memang berbayar, akan tetapi pembayaran tersebut disamakan dengan pelajar asli Tunisia," ujar Ahmadih Rojali Jawab.[]