Rahmah

Akademisi Bicara Interaksi Islam dengan Budaya Lokal yang Terus Dinamis

Dalam pembentukannya, agama dapat mempengaruhi kebudayaan, sedangkan kebudayaan dapat mempengaruhi sistem nilai dan juga simbol agama.


Akademisi Bicara Interaksi Islam dengan Budaya Lokal yang Terus Dinamis
Bincang Hikmah (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Agama dan kebudayaan adalah dua hal yang saling berkaitan dan berinteraksi, karena keduanya memiliki nilai dan simbol. Dalam pembentukannya, agama dapat mempengaruhi kebudayaan, sedangkan kebudayaan dapat mempengaruhi sistem nilai dan juga simbol agama.

Menurut Ketua Prodi PMI UIN SAIZU, AGUS Sriyanto MS mengatakan salah satu lembaga atau organisasi lokal yang berkembang hingga kini adalah tradisi tahlilan atau lembaga tahlilan.

"Seperti yang kita ketahui, di desa-desa yang namanya tahlilan itu menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat,"ujar Agus dalam acara Bincang Hikmah yang diselenggarakan atas kerjasama PMI UIN SAIZU Purwokerto dan Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI) bersama Akurat co dengan tema: "Interaksi dan Dinamika Islam dengan Budaya Lokal", Kamis (29/7/2021).

Agus kembali menjelaskan jika lembaga tahlilan menjadi bagian dari struktur sosial. Karena pada kenyataannya justru lembaga-lembaga lokal seperti tahlilan ini yang bisa menggantikan organisasi formal dari pemerintah.

"Memang sebenarnya lembaga semacam ini muncul karena ada kebutuhan-kebutuhan masyarakat, khususnya masalah ritual keagamaan," sambungnya.

Selanjutnya, Agus mengungkapkan jika dalam perkembangannya, lembaga tahlilan tidak hanya memfokuskan diri kepada kepentingan-kepentingan pribadi semata. Lebih dari itu, lembaga semacam ini bisa bertransformasi dan menghasilkan sumber daya sosial yang luar biasa, dan kemudian bisa mengarah bagi terbentuknya modal sosial bagi masyarakat.

"Model sosial merupakan sebuah norma yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat," ungkapnya.

Kemudian Agus memaparkan jika modal sosial harus bisa ditransmisikan melalui mekanisme kultural seperti agama, tradisi dan yang lainnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Dosen UIN SAIZU Purwokerto Ahmad Muttaqien M Si. Dia mengatakan salah satu budaya lokal yang berkolaborasi dengan agama yaitu Kelompok Islam Aboge (Alif Rabu Wage) di Banyumas Jawa Tengah.

Ia menjelaskan jika Aboge merupakan sebuah kelompok Islam, yang menurut masyarakat luas mengenalnya sebagai kelompok yang menggunakan kalender Jawa Islam yang dibentuk oleh Sultan Agung Mataram.

"Aboge ini dalam penentuan kalender sudah memiliki rumus-rumus, misalnya di tahun Alif, pasti satu muharammnya adalah Rabu Wage, tidak boleh tidak. Jika tahun Alifnya Rabu Wage, maka puasanya adalah Selasa Pahing,"[]