News

Akademisi Bantah Kasus Aceh Singkil karena Konflik Agama

Akademisi Bantah Kasus Aceh Singkil karena Konflik Agama


Akademisi Bantah Kasus Aceh Singkil karena Konflik Agama
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakulta Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Dr T Lembong (Tangkapan Layar)

AKURAT.CO, Toleransi beragama masyarakat Aceh tak bisa diragukan lagi. Penerapan moderasi beragama sudah menjadi fakta sosial masyarakat Aceh.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Dr T Lembong pun membantah kasus pembakaran gereja pada 2015 di Aceh Singkil sebagai konflik agama. Hingga saat ini masyarakat Aceh Singkil hidup damai berdampingan.

"Saya sebagai orang Aceh Singkil asli, konflik itu bukan karena agama.

Konflik agama hanya sering dijadikan triger sehingga terjadilah gejolak," kata Lembong dalam diskusi virtual Bincang Hikmah soal Moderasi Islam di Aceh; Pengalaman Kampu dan Masyarakat, Selasa (9/3/2021).

Lembong membagikan pengalaman bagaimana toleransi di Aceh Singkil. Dia menyampaikan hasil penelitian bagaimana hubungan sosial agama di Aceh sangat baik.

Misalnya ada salah satu geucik atau desa dimana kepala desanya beragama Kristen. Bahkan bisa dikatakan lebih islami.

Kalau ada yang tidak solat Jumat akan teriak 'ayo Jumat.'

"Ini menarik. Pada hari-hari besar saling mengujungi," kata Lembong.Jadi, kata Lembong, di Aceh

Singkil tak ada masalah dengan moderasi beragama. " Ada namanya konan atau pasar, disini semua bertemu agama, suku dan budaya," kata Lembong.

Seperti diketahui, kasus pembakaran Gereja HKI Suka Makmur di Aceh Singil terjadi pada 2015. Ini menjadi awal apa yang disebut sebagai Konfik Aceh Singkil. Saat itu sejumlah gereja dibakar dan dibongkar lantaran dianggap tak memiliki izin. [].

Bayu Primanda

https://akurat.co