Lifestyle

Akademi Literasi Ruang Digital Bantu Kamu Makin Giat Membaca

Literasi adalah hal yang esensi


Akademi Literasi Ruang Digital Bantu Kamu Makin Giat Membaca
Ilustrasi membaca (INSTAGRAM/7dayshappiness.de)

AKURAT.CO, Indonesia masih kekurangan bahan bacaan. Masalah budaya baca dan literasi Indonesia terletak pada sisi hulu literasi, sehingga sektor ini memerlukan intervensi penguatan peran melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Sementara pada sisi hilir yang menjadi imbas dari kompleksitas sisi hulu, berdampak pada kurangnya bahan bacaan hingga pendistribusian buku yang belum tepat sasaran. Akibatnya, pertumbuhan literasi mengalami perlambatan.

Maka tentu tidak afdol jika stigma rendah budaya baca masyarakat Indonesia terus diwartakan, terutama oleh lembaga riset atau media asing, sementara di sisi lain infrastruktur untuk mengakses pengetahuan belum memadai dan kurang mendapat perhatian.

"Padahal, faktor tersebut juga bisa dianggap pemicu disparitas ketersediaan bahan bacaan masyarakat dan akses pengetahuan yang semakin melebar. Oleh karena itu, maka tugas kita saat ini adalah memastikan sisi hulu berperan optimal dan berfungsi baik sekaligus memastikan kebutuhan bahan bacaan 270 juta penduduk terpenuhi," ujar Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, mengawali sambutan pada launching akademi literasi di Jakarta, baru-baru ini.

Perpustakaan Nasional, tambah Syarif Bando, akan mendukung kehadiran ruang digital Akademi Literasi sebagai wadah kolaborasi dan elaborasi para pegiat literasi. Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas, Adin Bondar, mengatakan, Akademi Literasi adalah gagasan baru yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

"Literasi menjadi sangat penting dalam segala aspek apapun. Dalam konteks yang lebih luas, literasi mengerucut pada perbendaharaan gagasan yang membantu seseorang untuk berpikir dan bertindak atas dasar konsep yang matang. Literasi adalah hal yang esensi," kata Adin.

Mengelola literasi, sama dengan mengelola manusia karena esensinya berdampak pada pembangunan manusia yang berkelanjutan. Hal ini yang disampaikan Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara (LAN), Suseno. Suseno memandang literasi sebagai cara membangun tatanan sosial yang terbuka, kritis dan menerima perbedaan.

"Akademi Literasi merupakan lahan untuk menumbuhkan kembangkan SDM unggul, " jelasnya. 

Senada dengan Suseno, pegiat literasi dan penulis Maman Suherman mengatakan bahwa para pegiat literasi harus benar-benar dilibatkan. Jangan sekedar menjadi objek, tetapi tingkatkan kapasitas skill mereka. Dekatkan mereka dengan buku. Bahkan jika perlu, eksistensi pegiat literasi dimasukkan sebagai bagian dari indikator indeks literasi masyarakat.

"Sejatinya, konsep empat tingkatan literasi yang digaungkan Perpustakaan Nasional ada dalam jiwa para pegiat literasi, " terang Kang Maman.

Sedangkan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, mengatakan, kehadiran ruang digital Akademi Literasi diharapkan mampu mengangkat derajat para pegiat literasi.[]