Lifestyle

Ajarkan Etika di Dunia Digital Sejak Dini guna Cegah Cyber Bullying

Belakangan cyberbullying atau perundungan di dunia maya sebagai tindakan agresif terhadap orang lain yang lebih lemah terjadi pada remaja.


Ajarkan Etika di Dunia Digital Sejak Dini guna Cegah Cyber Bullying
Dampak negatif yang dialami korban bullying (PIXABAY)

AKURAT.CO  Netizen Indonesia kini dikenal sebagai yang paling berisik di jagat maya se-Asia Tenggara. Hal ini berbanding terbalik dengan di dunia nyata sebagai yang paling ramah di dunia.

'Akan tetapi karena pengaruh penyebaran hoaks, penipuan, ujaran kebencian dan diakriminasi yang memengaruhi buruknya indeks kecakapan digital, Netizen Indonesia justru sempat dinobatkan sebagai yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft," ujar Dosen Praktisi Program Magister UNAIR dan HR Profesional, Rovien Aryunia saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur, Kamis (30/6).

Oleh karena itu menurutnya penting untuk mengakarkan sejak dini kepada anak mengenai etika dalam dunia digital.

baca juga:

"Etika di dunia digital menjadi landasan yang harus dimiliki setiap orang. Karena di ruang digital individu dituntut untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai perbedaan kultural," imbuhnya.

Terdapat 7 kompetensi literasi digital terkait etika dalam berinternet. Di antaranya kompetensi dalam mengakses informasi, menyeleksi dan menganalisis informasi, memahami etika digital sebagai upaya membentengi diri dari hal-hal negatif.

Di samping itu kompetensi digital juga meliputi memproduksi dan mendistribusikan informasi, memverifikasi pesan sesuai etika, berpartisipasi dalam membangun relasi sosial, serta berkolaborasi data dan informasi dengan aman dan nyaman di platform digital. 

"Etika yang kita tampilkan di ruang nyata sama dengan etika di ruang digital," kata Rovien lagi.

Belakangan cyberbullying atau perundungan di dunia maya sebagai tindakan agresif terhadap orang lain yang lebih lemah juga sempat dialami remaja maupun orang terkenal. Tak sedikit perundungan berlanjut pada kekerasan fisik di dunia nyata. 

Adapun dari Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.

Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan TIK ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. 

Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya untuk berbagi terkait budaya digital antara lain Dosen Praktisi Program Magister UNAIR dan HR Profesional, Rovien Aryunia. Bendahara Umum PMII Jatim, Andri Hadi Prasetya dan Dosen Unika Widya Mandala Surabaya, Yohanes Adven.