Lifestyle

Ajak Generasi Muda Melestarikan Budaya Lokal Lewat Media Digital

Budaya tradisional yang begitu kaya di Indonesia berpotensi menjadi penghasil devisa bila dipromosikan sebagai sumber pariwisata melalui internet.


Ajak Generasi Muda Melestarikan Budaya Lokal Lewat Media Digital
Pengunjung melihat keris koleksi Museum Nasional pada rangkaian acara Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/10/2019). PKN diisi dengan pertunjukan seni dan budaya, konfrensi kemajuan budaya, diskusi budaya dan ekshibisi kebudayaan untuk memajukan kebudayaan di tengah masyarakat. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO  Sebagai negara kepulauan dengan 17.508 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia dianugerahi dengan kekayaan budaya tradisional yang mengandung nilai-nilai luhur.

Budaya-budaya itulah yang kemudian membangun Indonesia modern menjadi sebuah negara kesatuan yang multikultur dengan slogannya Bhinneka Tunggal Ika.

Namun menghadapi era dunia digital, banyak generasi muda yang menganggap budaya tersebut sudah tidak relevan dengan zaman yang didominasi budaya populer dari Barat.

baca juga:

Oleh karena itu penting sekali untuk generasi muda mendalami kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya tersebut agar bisa dipromosikan melalui ruang-ruang digital dengan harapan dunia internasional tertarik untuk mempelajarinya juga.

Mustaghfiroh Rahayu selaku Dosen Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada  menyatakan, modernisasi budaya lokal perlu dilakukan di era digital, baik berupa bentuk hasil seni, tradisi, pola pikir, serta hukum adat. 

Adapun upaya untuk melestarikan budaya lokal dapat dimulai dengan mengajak anak-anak muda agar tertarik dan memperhatikan budayanya sendiri dan kemudian dilanjutkan dengan menumbuhkan kesadaran para generasi penerus tersebut. 

Oleh karena itu, media digital yang kini sudah banyak digunakan masyarakat Indonesia dapat menjadi alat  yang dapat digunakan untuk merealisasikan upaya tersebut. 

"Kondisi budaya lokal, tidak hanya di Kalimantan, cukup memprihatinkan karena proses modernisasi yang membuat masyarakat lebih menyukai hal yang baru. Bahkan, kebiasaan dan tradisi leluhur kadang sudah dianggap kuno. Sehingga, hal ini menjadi tantangan untuk berusaha melestarikannya," imbuhnya dalam  webinar berjudul “Bersama Menolong Sesama di Era Digital" , Selasa (19/7), di Bontang, Kalimantan Timur. 

Aktivis ICT Watch dan Koordinator Humas LPP Al Irsyad Karawang Iwan Ridwan menambahkan pengetahuan akan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi landasan kecakapan dalam lingkup kebudayaan digital. 

Selain itu, warganet juga harus memahami multikulturalisme agar dapat menghargai keberagaman bangsa Indonesia, misalnya perbedaan bahasa yang digunakan. Pemahaman tersebut juga diharapkan mampu membantu untuk menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat. 

"Tingginya penggunaan internet di Indonesia menjadikan tantangan dalam multikulturalisme. Sebab, sangat mungkin pengguna yang berbeda suku dan bahasa saling merundung satu sama lain, bahkan masing-masing membanggakan etnis dan mengunggulkan kelompoknya. Hal tersebut makin diperparah dengan adanya isu hoaks yang diiringi ujaran kebencian," jelasnya. 

Sementara, Andi Widya Syadzwina selaku Sekretaris Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISTI) Sulawesi Selatan memaparkan tentang kecakapan dalam bermedia digital. 

Sejumlah kiat yang dapat diterapkan warganet agar bisa tetap positif, aman, dan kreatif di internet antara lain, mempergunakannya untuk pengembangan kemampuan dan potensi diri, sebagai tempat memproduksi dan menyebarkan informasi positif, berlatih sebagai penghasil konten bermanfaat di media sosial, bergabung dan memanfaatkan komunitas blogger, berpikir ulang sebelum mengunggah sesuatu, serta hindari konten negatif.

"Kita harus mampu membatasi waktu berinternet, jangan terlalu lama karena secara psikologi akan mengganggu kesehatan mental. Saat kita ingin berselancar, kita juga harus tahu apa yang ingin dicari, jangan sampai awalnya ingin membuka tentang pendidikan tapi malah akhirnya membaca gosip-gosip artis," tuturnya dalam acara yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi tersebut.