News

Air Laut Akan Pasang pada 21 Januari Nanti, Ini Penyebabnya...


Air Laut Akan Pasang pada 21 Januari Nanti, Ini Penyebabnya...
Peristiwa alam ?Supermoon? yang terlihat dari Jakarta, Minggu (3/12). Supermoon adalah istilah populer untuk menyebut purnama yang mencapai jarak terdekat bulan dengan bumi. Bulan pada saat Supermoon akan lebih terang 30 persen dan 14 persen lebih besar. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gunungsitoli, Sumatera Utara mengungkap soal dampak dari terjadinya bulan penuh yang akan terjadi pada tanggal 21 Januari mendatang.

"Secara kalender astronomi pada tanggal 21 Januari 2019,akan terjadi bulan penuh atau full moon dan di beberapa belahan bumi terjadi Supermoon. Dimana pada peristiwa Supermoon ini bulan berada pada titik paling dekat dengan bumi atau disebut perigee," ungkap kepala Stasiun BMKG Binaka Gunungsitoli.

Budi Iman Samiaji dalam keterangan resmi diterima AKURAT.CO, Minggu (13/1/2019).

Budi mengatakan, dampak tersebut akan terjadi wilayah Kepulauan Nias terutama di kawasan pesisir, dimana akan terjadi kenaikan pasang air laut hingga beberapa sentimeter.

"Pasang air laut akibat gaya gravitasi bulan dan bumi. Dimana adanya kenaikan permukaan air laut beberapa sentimeter dari kondisi normal," jelas Budi.

Menurut dia, jika kenaikan air laut saat full moon atau supermoon ini bersamaan dengan hujan lebat, maka akan memicu terjadinya banjir rob.

Daerah yang perlu diwaspadai jika terjadi banjir rob, lanjut Budi, daerah yang berjarak beberapa sekitar beberapa meter dari bibir pantai dan tidak meluas jauh ke daratan.

"Dimana berpotensi terjadi genangan air atau berkisar beberapa sentimeter saja didaerah yang dekat dengan bibir pantai," katanya.

Atas gejala alam ini, Budi menghimbau masyarakat di sekitar pesisir pantai agar waspada untuk kemungkinan terjadinya genangan air akibat pasang air laut ataupun banjir rob. Kendati ia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik.

"Masyarakat tidak termakan informasi yang memelintir atau mendramatisir seolah-olah pasang air laut dan banjir rob sama dengan tsunami," katanya.

Budi menegaskan, BMKG tidak pernah memberikan himbauan untuk mengungsi. Selain itu BMKG dengan instansi terkait selalu berkoordinasi untuk memberikan informasi yang benar secara keilmuan.

"Catatan penting adalah bahwa  banjir rob bersifat genangan air dan tidak sama dengan banjir bandang. Pasang air laut dan Banjir rob tidak sama dengan tsunami. Dan pasang air laut dan Banjir rob tidak bersifat merusak secara massal seperti tsunami," urai Budi.[]