Rahmah

Air Kolam Bau Bangkai Ikan, Apakah Airnya Tetap Suci?

Jika ikan dalam kolam mati dan menimbulkan bau, apakah air di kolam bisa dipakai wudhu dan dihukumi sebagai air yang suci?


Air Kolam Bau Bangkai Ikan, Apakah Airnya Tetap Suci?
Ilustrasi berwudu (Pinterest)

AKURAT.CO  Di antara bangunan masjid dan musala, terdapat tempat wudhu berupa keran yang berjejer secara rapih. Akan tetapi, seringkali tempat wudhu tersebut menggunakan kolam besar sebagai tempat penampungan air. Tempat wudhu ini biasanya kita temui di musala-musala kecil atau musala yang sudah tua.

Kebanyakan, pengurus masjid mengisi kolam tersebut dengan ikan. Tujuannya agar kolam wudhu tidak menjadi tempat nyamuk bertelur. Namun ketika ikan tersebut mati dan menimbulkan bau, apakah air di kolam bisa dipakai wudhu dan dihukumi sebagai air yang suci?

Jika ikan mati belum sampai mengeluarkan bau busuk maka air tetap dihukumi suci sekaligus menyucikan karena kematian ikan tidak mengubah statusnya menjadi bangkai najis. Maksudnya, bangkai ikan tetap suci dan halal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW pada saat menjelaskan tentang laut:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Artinya: “Laut adalah suci menyucikan airnya. Halal bangkainya,”. (HR Abu Daud, At-Tirmidzi).

Hadits di atas memberikan pemahaman bahwa karena dzatiyah (fisik) bangkai ikan berstatus suci, maka kedudukannya sama dengan gayung, sendok, ember, dan piranti-piranti suci lain yang apabila masuk ke dalam air baik sedikit atau banyak, asalkan tidak mengubah tiga ciri-ciri dasar air, maka tidak mempengaruhi keabsahan air tersebut dipakai untuk bersuci. 

Bagaimana apabila ikan yang ditemukan dalam kolam tersebut sudah mengeluarkan bau busuk?  

Yang jelas, bau busuk ikan sama sekali tak mengubah status kesucian ikan itu sendiri. Bangkai ikan tetap tidak najis walau aromanya mungkin mengganggu siapa saja. Namun yang menjadi masalah, bagaimana dengan status air kolam tempat bangkai ikan berbau menyengat itu? Apakah juga suci?

Pertama, jika bau busuk bersumber dari tubuh bangkai ikan saja, sedangkan airnya masih tetap netral, atau air berubah sedikit saja, maka air kolam dihukumi suci sekaligus menyucikan. Suci dalam arti bisa dibuat untuk konsumsi, menyucikan dalam arti bisa untuk menghilangkan najis dan hadats. Hal ini dikarenakan antara bangkai ikan dengan air tidak larut menjadi satu, masing-masing bisa dipisahkan. 

Dalam fiqih, benda yang bisa larut (mukhâlith) dan benda yang tak bisa larut (mujâwir) memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Misalnya, pewarna kain dan bangkai ikan memiliki dampak berbeda, meski sama-sama masuk kolam lalu mengubah karakter air. Untuk kasus pertama, air kolam tidak dapat menyucikan walaupun mungkin air tetap dihukumi suci. Sedangkan untuk kasus kedua, air kolam tetap suci sekaligus menyucikan karena air dan bangkai ikan sejatinya dua entitas yang terpisah. Bangkai ikan yang busuk itu bisa diangkat dan dipisahkan dari air kolam.

وَضُبِطَ الْمُجَاوِرُ بِمَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ وَالْمُخَالِطُ بِمَا لَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ

Artinya: “Batasan tidak larut (sekadar berdampingan) adalah bila sesuatu bisa dipisahkan, sedangkan larut (menyatu) adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dipisahkan” (Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad al-Qalyubi & Syihabuddin Ahmad al-Burullusi al-Mishri, Syarah Al-Mahalli, matan Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah, [Darul Fikr: Beirut, 1995], juz 1, hal. 22).

Kedua, bila bangkai busuk kolam itu bersumber dari cairan busuk yang keluar dari perut ikan, maka hukum air adalah suci tapi tidak menyucikan. Sekali lagi, status suci tidak selalu berarti pula dapat digunakan untuk bersuci. Dalam kasus ini, air kolam tersebut  tidak najis meskipun tidak bisa dibuat untuk wudhu, mandi wajib, maupun menghilangkan najis.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, ikan yang mati dalam kolam tidak menjadikan air kolam najis. Apabila ada bau menyengat dari tubuh ikan saja, tapi airnya masih normal sebagaimana sebelumnya, tidak ikut tercampur baunya, maka air dihukumi suci menyucikan. Wallahu A’lam.[]

Sumber: Nu Online