Rahmah

Air Kencing Terasa Menetes Saat Sujud? Begini Cara Islam Menyikapinya

Seorang muslim terkadang memiliki masalah yaitu tak sengaja keluar air kencing saat melakukan sujud atau ruku


Air Kencing Terasa Menetes Saat Sujud? Begini Cara Islam Menyikapinya
Ilustrasi sujud (Rawpixel)

AKURAT.CO  Bebas dari hadats dan najis merupakan syarat sahnya ibadah salat. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya seorang muslim memiliki masalah yaitu tak sengaja keluar air kencing saat melakukan sujud atau ruku.

Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap Muslim yang mengalami masalah seperti ini?

Masalah seperti ini berkaitan dengan istibra, yaitu upaya penirisan atau penyucian alat kelamin setelah membuang air kecil. Istibra dianjurkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini: 

ودليل طلب الاستبراء: حديث ابن عباس: أن النبي صلّى الله عليه وسلم مرّ بقبرين، فقال: «إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير: أماأحدهما فكان لا يستبرئ من بوله، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة»

Artinya: “Dalil istibra adalah hadits riwayat Sayyidina Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW ketika melewati dua makam bersabda, ‘Kedua ahli kubur ini disiksa. Keduanya disiksa bukan karena hal besar. Satu tidak istibra sesudah kencing. Satu lagi berjalan untuk mengadu domba,”. (HR Bukhari dan Muslim).

Ulama fiqih memasukkan istibra dalam bab thaharah. ulama hampir jarang memisahkan pembahasan istinja dan istibra. Berikut ini kami kutip penjelasan istibra dari Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

والاستبراء: طلب البراءة من الخارج، حتى يتيقن من زوال الأثر أو هو طلب براءة المخرج عن أثر الرشح من البول.

Artinya: “Istibra adalah upaya menyucikan dari najis kotoran yang keluar sehingga seseorang yakin atas hilangnya sisa kotoran atau upaya menyucikan kemaluan tempat keluar kotoran dari sisa tetesan air kencing,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], , cetakan kedua, juz I, halaman 192).

Upaya penirisan air kencing dalam kitab fiqih klasik biasanya dapat ditempuh melalui berdehem dan mengurut saluran kencing pada penis tiga kali. Syekh Wahbah Az-Zuhayli, ulama fiqih kontemporer, mengatakan bahwa istibra dapat dilakukan dengan apa saja dengan tujuan utama meniriskan sisa air kencing dari kelamin. 

Syekh Wahbah menyebut antara lain berdehem, mengurut saluran kencing pada kelamin, melangkah, bergerak, menekan bagian atas kelamin, senam kecil, berbaring (tentu bukan di kamar mandi) sebagai cara istibra. Setiap orang, menurut Syekh Wahbah, bisa jadi memiliki cara masing-masing dalam melakukan istibra. Aneka cara itu dapat ditempuh untuk istibra.

 وكل هذه الوسائل للتطهر من النجاسة، ولا يجوز الشروع في الوضوء حتى يطمئن المرء من زوال أثر رشح البول.

Artinya: “Semua jalan itu dapat ditempuh untuk bersuci dari najis. Seseorang tidak boleh mulai berwudhu sehingga ia yakin atas hilangnya sisa tetesan air kencing,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 193). 

Kesimpulannya, disarankan bagi orang yang mengalami hal seperti ini untuk melakukan istibra terlebih dahulu untuk memastikan tidak adanya sisa air kencing yang kemungkinan keluar dari kelamin.

Orang yang mengalami masalah semacam ini dapat mengatur waktu untuk buang air kecil dan waktu jeda sekian menit istibra sebelum berwudhu dan melakukan salat.[]

Sumber: Nu Online