Ekonomi

Ahmad bin Hanbal, Penentang Monopoli Pasar


Ahmad bin Hanbal, Penentang Monopoli Pasar
Ilustrasi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Perkembangan ilmu ekonomi modern dewasa ini tentunya tak terlepas dari pengaruh ekonomi islam syariah yang memang sudah ada jauh lebih dulu. Dan, bicara mengenai lini displin ilmu yang satu ini, nama Ahmad bin Hanbal merupakan salah satu tokoh yang patut untuk diulas.

Pasalnya, sumbangsih pemikiran Ahmad bin Hanbal disadari atau tidak telah menjadi dasar dari sejumlah konsep ekonomi yang masih dijadikan referensi hingga saat ini.

Lantas siapa sebenarnya Ahmad bin Hanbal? Berikut ulasan singkat tokoh muslim tersebut yang Akurat.co himpun dari berbagai sumber.

1. Lahir dan Wafat

Lahir pada 20 Rabiul awal 164 Hijriah atau 27 November 780 Masehi, di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utaraIran), kota Baghdad, Irak. Ia bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, atau dikenal khalayak luas sebagai Imam Hambali.

Wafat pada 12 Rabiul Awal 241 Hijriah atau 4 Agustus 855 Masehi, Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam.

2. Penghapal Quran Sejak Muda

Ahmad bin Hanbal sudah menjadi penghapal Alquran sejak usia 15 tahun. Ia juga dikenal mahir dalam baca-tulis dengan sempurna, hingga diakui sebagai orang yang memiliki tulisan terindah.

Pada usia 15 tahun pula ia mulai konsentrasi belajar ilmu hadis. Di mana dalam pembelajarannya, Ahmad bin Hanbal  pernah pindah dan merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya hingga dikenal menjadi tokoh ulama zuhud. Tercatat, sebanyak sejuta hadis mampu dihapal Ahmad bin Hanbal.

Kecintaannya pada ilmu membuat ia lebih fokus untuk belajar. Ahmad bin Hanbal baru menikah pada umur 40 tahun. Ia memiliki anak-anak yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari ayahnya.

3. Berguru Pada Banyak Ulama

Ahmad bin Hanbal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya.

Adapun guru-guru Ahmad bin Hanbal diantaranya Ismail bin Ja’far, Abbad bin Abbad Al-Ataky, Umari bin Abdillah bin Khalid, Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami, Imam Syafi'iWaki’ bin Jarrah, Ismail bin Ulayyah, Sufyan bin ‘Uyainah Abdurrazaq Ibrahim bin Ma’qil.

4. Karya Ahmad bin Hanbal

Ahmad bin Hanbal menulis kitab al-Musnad al-Kabir, yang merupakan karya paling monumental karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadis. Selain itu ia menulis juga Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini telah hilang”, Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh, Kitab at-Tarikh, Kitab Hadits Syu'bah, Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an, Kitab Jawabah al-Qur`an, Kitab al-Manasik al-Kabir, Kitab al-Manasik as-Saghir.

Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal: Kitab al-'IlalKitab al-ManasikKitab az-ZuhdKitab al-Iman, Kitab al-Masa'il, Kitab al-Asyribah, Kitab al-Fadha'il, Kitab Tha'ah ar-Rasul, Kitab al-Fara'idh, Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah.

5. Pemikiran Ekonomi Islam

Pandangan Ahmad bin Hanbal mewakili pendekatan Islam dalam memenangkan persaingan yang adil di dalam pasar. Ia mencela seorang penjual yang menurunkan harga barang untuk mencegah orang lain membeli barang yang sama pada pesaingnya.

Seorang penjual yang menurunkan harga akan memonopoli komoditi tersebut dan jika persaingan sudah tidak ada, dia bisa mengatur harga sesukanya. Sehingga penguasa harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Ahmad bin Hanbal menginginkan agar hukum menangani kasus-kasus demikian untuk mencegah monopoli dan praktek yang tidak menyenangkan lainnya.

Pemikiran lainnya yaitu mengakui kebebasan maksimal dalam kontrak dan perusahaan. Ia membolehkan syarat-syarat ke dalam kontrak-kontrak yang mana sekolah hukum Islam lainnya pada masa itu tidak mengijinkan.

Ia merasa bebas menggunakan konsep maslaha terhadap masalah-masalah yang tidak ada tuntunan. Metodenya lebih menarik untuk mempromosikan kepentingan kaum lemah dan miskin. Ia juga mewajibkan para pemilik rumah untuk menyediakan penampungan bagi mereka yang tidak memiliki tempat beristirahat.[]