News

Ahli Medis: Termometer Tembak Kurang Efektif untuk Deteksi Penderita Virus Corona


Ahli Medis: Termometer Tembak Kurang Efektif untuk Deteksi Penderita Virus Corona
Seorang pelanggan terlihat tengah diperiksa suhu tubuhnya dengan menggunakan termoter tembak saat memasuki sebuah supermarket di Shanghai, China (SCMP)

AKURAT.CO, Di tengah-tengah merebaknya wabah virus corona baru atau COVID-19, pemeriksaan suhu di berbagai tempat publik pastinya menjadi salah satu upaya preventif utama untuk mengecek individu yang terinfeksi. Namun, baru-baru ini, para pakar kesehatan serta medis justru mengklaim bahwa pengecekan suhu, terutama menggunakan termometer tembak sebenarnya kurang akurat atau efektif.

Dilansir dari South China Morning Post pada Rabu (4/3), termometer inframerah genggam atau yang biasa lebih dikenal dengan termometer tembak memang bisa diandalkan untuk mengukur suhu individu dengan relatif cepat. Pun, termometer tembak menjadi makin populer lantaran para petugas tidak perlu menyentuh kulit atau menjalin kontak langsung dengan individu.

Meski begitu, para ahli medis menilai bahwa termometer jenis ini malah mempunyai tingkat akurasi yang kurang untuk mendeteksi individu yang terinfeksi virus corona.

"Secara umum, termometer inframerah jarak jauh telah terbukti kurang dapat diandalkan. Seperti (jenis) termometer kontak kulit lainnya, ada masalah termasuk berkeringat serta kehilangan panas yang bisa mempengaruhi pembacaan suhu," ujar profesor kedokteran dari Universitas Nebraska, Amerika Serikat (AS), James Lawler.

Untuk mengatasi pencegahan penularan COVID-19, Lawler lebih menyarankan para petugas berwenang untuk menggunakan termometer telinga elektronik atau termometer oral. Lawler menyebut bahwa jenis-jenis termometer tersebut lebih akurat meski pembacaan suhu mungkin akan memakan waktu lebih lama serta menimbulkan risiko kontaminasi silang yang lebih tinggi dari termometer tembak.

Selain termometer tembak, pakar kesehatan dari Australia, Raina MacIntyre, juga menambahkan bahwa alat pengukur panas lain, yaitu kamera pencitraan termal juga bukan alat yang tepat untuk mengendalikan infeksi virus COVID-19.

Menurut MacIntyre, kedua pengukur suhu itupun dinilai tidak mampu menangkap semua orang yang terinfeksi COVID-19 lantaran ada beberapa penderita yang tidak menunjukkan gejala.

"Orang-orang yang tidak menunjukkan gejala sama menularnya dengan mereka yang mengalami demam atau gejala lainnya," ucap MacIntyre yang saat ini menjabat sebagai profesor keamanan hayati global di Universitas New South Wales.

Analisis MacIntyre inipun sejalan dengan penelitian yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine (NEJM) pada bulan lalu. Dalam laporannya, NEJM menunjukkan dua dari 126 orang yang dievakuasi dari Hubei ke Frankfurt ternyata positif COVID-19.

Padahal, kedua orang ini telah melewati sistem screening atau penyaringan berbasis gejala sebelum naik ke pesawat. Dalam kasus ini, para peneliti Jerman pun meyakini bahwa penularan dapat terjadi pada orang yang tidak demam atau tidak memiliki tanda-tanda kecil lain dari gejala infeksi COVID-19.

Selain itu, individu yang telah terinfeksi mungkin juga masih dalam masa inkubasi. Dalam hal ini, penderita mungkin tidak akan menunjukkan gejala infeksi meski sudah tertular.

Sementara, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menjelaskan gejala COVID-19 dapat muncul segera setelah dua hari atau selama 14 hari setelah paparan. Tetapi seorang pakar pernapasan China terkemuka, Zhong Nanshan, pada bulan lalu sempat memperingatkan bahwa masa inkubasi bisa mencapai 24 hari dalam sebuah kasus yang jarang terjadi.

"Bahkan jika mereka memiliki penyakit COVID-19 dengan demam, mereka mungkin tidak mengalami demam pada saat mereka menjalani screening karena fluktuasi alami demam atau penggunaan obat-obatan untuk menurunkan demam," tambah Sanjaya Senanayake, seorang spesialis penyakit menular dari Sekolah Kedokteran Universitas Nasional Australia.

Michael Osterholm, direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular dari Universitas Minnesota, AS, mengatakan pemeriksaan suhu memang bisa memberikan rasa aman, tetapi apakah cara tersebut efektif adalah cerita yang berbeda.

"Sudah jelas bahwa bahkan dengan apa yang diberlakukan, dengan kontrol perbatasan, membatasi perjalanan antar negara, pemeriksaan suhu (ternyata) belum bisa menghentikan (penyebaran virus).

"(Rasa aman) adalah segalanya, (terutama) jika Anda melihat (tentang) berapa banyak orang yang sebenarnya telah diidentifikasi tetapi dialihkan oleh pemeriksaan suhu tersebut," ucap Osterholm. []