News

Agustin Teras Narang: Pancasila dan UUD 1945 Komitmen Kebangsaan

Agustin Teras Narang mengatakan, komitmen bersama sebagai bangsa Indonesia adalah mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. 


Agustin Teras Narang: Pancasila dan UUD 1945 Komitmen Kebangsaan
Dokumen akurat.co/Anggota MPR Kelompok DPD, Agustin Teras Narang (ANTARA FOTO)

AKURAT.CO Anggota MPR RI dari kelompok DPD Agustin Teras Narang mengatakan, komitmen bersama sebagai bangsa Indonesia adalah mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. 

Dua pedoman negara itu, kata dia, merupakan komitmen kebangsaan. Karenanya tekad itu tak boleh mengendur. Pancasila harus tetap menjadi pedoman berbangsa dan bernegara. 

"Kita tetap bertekad bagaimana yang namanya Pancasila, yang namanya pembukaan UUD 1945 itu adalah merupakan suatu komitmen kebangsaan, kenegaraan kita yang tetap kita pertahankan. Dan itulah Indonesia," katanya dalam diskusi empat pilar MPR yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, Jakarta, Senin (20/9/2021).

Ia menerangkan, agar Pancasila menjadi pedoman hidup bangsa, sosialisasi harus terus dilakukan. Terutama kepada generasi-generasi baru bangsa Indonesia. Upaya menyosialisasikan Pancasila kepada generasi baru itu tentu harus dilakukan dengan kondisi psikologis generasi baru. 

"Satu lagi, sosialisasi tidak boleh berhenti. Karena apa? Apalagi di era milenial dengan keterbukaan era revolusi Industri ini, tekhnologi makin berkembang. Nah bagaimana sosialisasi ini menyesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi," ungkapnya. 

Menurut dia, metode sosialisasi pada generasi baru Indonesia tidak bisa lagi dengan pola lama seperti yang dia alami dulu. Kini, sosialisasi harus dilakukan dengan cara yang mudah dan gampang dipahami. Sehingga dengan cara itu, pengamalan Pancasila dalam kehidupan nyata bisa dilakukan.

"Sekarang itu bagaimana bersosialisasi sehingga makna hakiki dari Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI itu dipahami dengan kondisi saat ini. Gampang diterima, gampang dicerna, dan gampang dijalani dengan pikiran, perbuatan dan perkataan," ungkapnya. 

Dia menambahkan, upaya menjadikan Pancasila masuk ke dalam pemahaman generasi baru itu, harusnya sesuai dengan semangat zaman. Karenanya, sosialisasi tidak boleh berhenti hanya pada kalangan elite. Tetapi harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi. 

"Bagaimana kita masuk ke dalam pikiran anak-anak kita sehingga dari pikiran itu akan tertuang dalam pikiran dan perkataan," ungkapnya. 

Turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi itu, anggota BPIP Romo Benny Soesatyo, dan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. []