News

Agen Intelijen MI5 Sebut Ada 'Penyusup' China di Parlemen Inggris

PKC telah mempekerjakan seorang wanita, yang mana tujuannya adalah untuk memberikan pengaruh 'tidak pantas' terhadap anggota parlemen.


Agen Intelijen MI5 Sebut Ada 'Penyusup' China di Parlemen Inggris
Christine Lee menjalankan firma hukum, dengan kantor di London dan Birmingham (Reuters )

AKURAT.CO  Layanan mata-mata domestik Inggris, MI5 telah memperingatkan para anggota parlemen tentang adanya 'penyusup China'. Disebutkan oleh MI5, bahwa dalam kasus ini, Partai Komunis China (PKC) telah mempekerjakan seorang wanita, yang mana tujuannya adalah untuk memberikan pengaruh 'tidak pantas' terhadap anggota parlemen.

Seperti diwartakan Reuters melalui CNA, MI5 mengirimkan peringatan itu dengan gambar seorang wanita bernama Christine Lee. Peringatan itu datang pada Kamis (13/12), dengan MI5 menuding Lee telah 'terlibat dalam kegiatan campur tangan politik' di Inggris atas nama PKC.

Dokumen peringatan MI5 itu kemudian diedarkan kepada para anggota parlemen oleh Ketua Dewan Rakyat Inggris, Lindsay Hoyle. Hoyle mengatakan bahwa menurut penyelidikan MI5, Lee telah 'membangun hubungan' dengan anggota parlemen Inggris yang menjabat saat ini dan calon anggota parlemen. Upaya ini, kata MI5, semuanya demi PKC.

baca juga:

Dikatakan bahwa Lee telah memberikan sumbangan kepada para politisi, dengan dana yang berasal dari warga negara asing di China dan Hong Kong.

Hoyle menambahkan bahwa Lee terlibat dalam kelompok parlemen yang mewakili warga China di Inggris, dan yang kini semua partainya telah dibubarkan.

Menurut peringatan MI5, Lee juga mengklaim keterlibatannya tersebut, menyebut hubungannya dengan parlemen Inggris adalah untuk 'mewakili etnis China-Inggris dan meningkatkan keragaman'.

Namun, MI5 mengatakan bahwa kegiatan Lee itu 'telah dilakukan melalui koordinasi rahasia dengan Departemen Kerja Front Bersatu Komite Pusat Partai Komunis China (UFWD). 

Menurut seorang pejabat pemerintah, Lee adalah pendiri firma hukum, yang memiliki kantor di London dan Birmingham.

Agen Intelijen MI5 Sebut Ada Penyusup China di Parlemen Inggris - Foto 1
 Christine Lee-BBC

Laporan mengungkap bahwa Lee terdaftar sebagai warga negara Inggris di bawah firma hukum Christine Lee & Co. Di situs webnya, firma hukum itu mencantumkan bahwa salah satu peran Lee adalah sebagai penasihat hukum untuk kedutaan besar China di Inggris. 

Selain berhubungan dengan firma hukum, Lee terlibat dalam pekerjaan pengarsipan keuangan dengan Companies House, yang juga terdaftar sebagai perusahaan Inggris.

Kedutaan China di London tidak menanggapi permintaan komentar.

"Peringatan itu datang setelah MI5 melakukan penyelidikan signifikan dan berlangsung lama," kata sejumlah sumber anggota Dewan, yang ikut memberi konfirmasi kepada BBC.

Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel mengatakan kepada wartawan bahwa perilaku Lee saat ini di bawah ambang batas kriminal untuk menuntutnya, tetapi dia mengatakan bahwa dengan mengeluarkan peringatan, pemerintah dapat memperingatkan anggota parlemen tentang upaya Lee untuk memengaruhi mereka secara tidak patut.

Patel mengatakan "sangat memprihatinkan" bahwa seorang individu yang bekerja atas nama Partai Komunis China telah menargetkan anggota parlemen.

Kemudian, terungkap bahwa salah satu anggota parlemen yang didanai oleh Lee adalah Barry Gardiner dari Partai Buruh. Dilaporkan dalam kurun waktu lima tahun, Gardiner setidaknya telah menerima lebih dari 420 ribu poundsterling (Rp8,2 miliar) dari Lee. Namun, saat ditanya, Gardiner mengatakan bahwa donasi itu selalu dia laporkan ke dinas keamanan.

Pemimpin Demokrat Liberal Sir Ed Davey juga dilaporkan menerima sumbangan dengan nilai mencapai 5 ribu poundsterling (Rp98 juta). Sumbangan itu diterima Davey ketika dia masih menjadi menteri energi. Davey lalu menyebut bahwa uang itu telah diberikan oleh asosiasi lokalnya.

"Itu adalah pertama kalinya saya memiliki alasan untuk khawatir," kata Davey.

Agen Intelijen MI5 Sebut Ada Penyusup China di Parlemen Inggris - Foto 2
Parlemen Inggris/Roger Harris/Handout via Reuters

Menanggapi penemuan itu, Menteri Dalam Negeri Priti Patel langsung menyatakan keprihatinannya. Patel pun menyayangkan ada seseorang yang secara sengaja melakukan 'penetrasi politik' Inggris dan menargetkan anggota parlemen, demi PKC.

"Sangat memprihatinkan ada seseorang yang secara sadar terlibat dalam kegiatan campur tangan politik atas nama Partai Komunis China, dan menargetkan para anggota parlemen," katanya.

Namun, Patel mengatakan Inggris telah mengantongi langkah-langkah untuk mengidentifikasi campur tangan asing tersebut.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Bayangan Inggris, Yvette Cooper dari Partai Buruh. Cooper juga mengatakan bahwa partainya kini sedang mencari informasi lebih lanjut dari Badan Dalam Negeri dan MI5 tentang tingkat penipuan, campur tangan, hingga risiko berkelanjutan dari aktivitas merugikan dari negara asing.

"Kami mengutuk dengan keras upaya China untuk ikut campur dalam proses demokrasi Inggris," ucap Cooper.

Dinas keamanan MI5 telah menghimbau agar siapa pun yang dihubungi Lee harus 'mewaspadai afiliasinya' dan 'tugasnya untuk memajukan agenda PKC'.

"Semua anggota parlemen dan rekan-rekan pasti akan diberi pembaruan dari MI5 tentang risiko keamanan dan bagaimana menjaganya dari gangguan, " kata MI5 dalam sebuah pernyataan. 

Hubungan Inggris dengan China telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir, lantaran sejumlah masalah, termasuk isu soal Hong Kong dan Xinjiang.

Tahun lalu, MI5 juga sudah mendesak warga Inggris untuk memperlakukan ancaman mata-mata dari Rusia, Cina, dan Iran dengan tingkat kewaspadaan layaknya kejahatan terorisme.

Mata-mata Inggris mengatakan bahwa baik Beijing maupun Moskow, keduanya telah berusaha mencuri data sensitif komersial dan kekayaan intelektual. Mereka juga dikatakan telah ikut campur dalam politik domestik dan menabur informasi yang salah.

Duta Besar China untuk Inggris dilarang menghadiri acara di parlemen Inggris tahun lalu karena Beijing memberlakukan sanksi terhadap anggota parlemen yang menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

China, pada gilirannya, menjatuhkan sanksi pada sembilan politisi Inggris pada Maret tahun lalu. Oleh China, para politik Inggris itu dituding telah menyebarkan apa yang dikatakannya sebagai 'kebohongan dan disinformasi' atas perlakuan terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.[]