Tech

Agar Terhindar dari Kejahatan Keuangan, Literasi Digital Bagi Perempuan Wajib Digaungkan

Agar Terhindar dari Kejahatan Keuangan, Literasi Digital Bagi Perempuan Wajib Digaungkan
Ilustrasi - Pentingnya literasi digital dan literasi keuangan untuk menekan risiko kejahatan keuangan di dunia maya. (pixabay.com/photomix company)

AKURAT.CO Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menyatakan literasi digital dan literasi keuangan menjadi faktor penting untuk menjamin perempuan mendapatkan kenyamanan dan keamanan menggunakan layanan keuangan di dalam ekosistem digital.

"Literasi digital dan keuangan yang belum merata di tengah meningkatnya penggunaan layanan fintech di kalangan perempuan, masih menempatkan kelompok masyarakat ini, khususnya di Indonesia, sebagai pengguna layanan yang rentan terhadap berbagai resiko kejahatan keuangan," kata Deputy Secretary General IV dan Head of The Personal Data Protection Task Force AFTECH, Sati Rasuanto, dalam siaran pers, Senin (28/11/2022).

Ia juga mengatakan, meningkatnya jumlah kasus perempuan sebagai korban platform pinjaman dan investasi online ilegal, menunjukan rendahnya literasi keuangan.  Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian, baik oleh pelaku bisnis industri fintech maupun pemerintah.

baca juga:

Berdasarkan hasil diskusi "Women in Fintech Roundtable Discussion: Role of Women in Promoting Responsible Innovation on Digital Finance and Fintech Ecosystem" yang dilaksanakan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) pada 11 November 2022 lalu, baik pelaku industri maupun pemerintah masih memiliki banyak tugas dan perlu bekerja sama dalam mengadvokasi dan memberikan akses yang lebih mudah kepada masyarakat. Khususnya, perempuan dalam inklusi keuangan pada lingkup digital. 

Menurut Laporan Survei Anggota Tahunan AFTECH, perusahaan fintech di Indonesia saat ini memang sudah cukup banyak menyediakan layanan khusus untuk perempuan.

Salah satu produk layanan yang paling banyak digunakan oleh perempuan adalah P2P lending yang 84 persen peminjamnya adalah perempuan. Hal ini juga juga sejalan dengan survei yang dilakukan OJK yang mengungkapkan bahwa 66,7 persen penerima P2P atau pinjaman online adalah perempuan. 

Selain itu, sebagai usaha untuk mengurangi kesenjangan gender dalam inklusi keuangan, industri fintech di Indonesia saat ini juga sudah banyak melibatkan perempuan untuk berinovasi dalam membangun ekosistem digital yang aman dan nyaman untuk perempuan.

"Tidak hanya sebagai pengguna, dengan meningkatnya peran perempuan di balik inovasi teknologi fintech, maka dapat membuat perempuan merasa aman dan nyaman menggunakan produk fintech dalam bertransaksi dalam ekosistem digital," tutup Sati.