Ekonomi

Aduh! Anak Buah Sri Mulyani Ucap Harga Pangan Masih Terus Berpotensi Bergejolak

perlu terus diwaspadai perkembangan harga pangan akibat risiko cuaca dan tekanan harga global karena restriksi ekspor di beberapa negara produsen pangan


Aduh! Anak Buah Sri Mulyani Ucap Harga Pangan Masih Terus Berpotensi Bergejolak
Pedagang menjajakan bahan pangan di pasar (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengakui perlu terus diwaspadai perkembangan harga pangan akibat risiko cuaca dan tekanan harga global karena restriksi ekspor di beberapa negara produsen pangan.

" Harga minyak goreng mulai turun seiring melandainya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Pangan sangat penting bagi masyarakat sehingga Pemerintah akan terus mengantisipasi dan memitigasi risiko dari kenaikan harga kelompok pangan bergejolak melalui berbagai kebijakan untuk menjamin kecukupan pasokan dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat,” tutur Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam keterangan resmi, Minggu (4/7/2022).

Adapun hingga saat ini, komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah akibat curah hujan tinggi di wilayah sentra sehingga menimbulkan gagal panen dan terganggunya distribusi.

baca juga:

“Perlu terus diwaspadai perkembangan harga pangan akibat risiko cuaca dan tekanan harga global karena restriksi ekspor di beberapa negara produsen pangan,” jelasnya.

Sementara itu, inflasi bulan Juni 2022 disinyalir masih terjaga di level 4,35 persen (y-on-y) dibandingkan dengan banyak negara di dunia. Inflasi Indonesia menurutnya masih tergolong moderat.

“ Meskipun demikian, Pemerintah akan terus memantau dan memitigasi berbagai faktor yang akan berpengaruh pada inflasi nasional, baik yang berasal dari eksternal maupun domestik. Inflasi Juni mengalami peningkatan yang terutama disebabkan oleh kenaikan harga pangan bergejolak yang signifikan mencapai 10,07 persen  (yoy),” tuturnya.

Pemerintah akan terus memonitor dinamika dan prospek ekonomi global ke depan serta memitigasi berbagai dampak yang mungkin timbul. Berbagai instrumen yang ada, termasuk APBN akan dioptimalkan untuk meminimalisasi dampaknya pada perekonomian domestik. Dengan demikian, momentum pemulihan ekonomi nasional terjaga.

Menurutnya pemerintah secara konsisten berupaya menjaga agar peran APBN sebagai shock absorber dapat berfungsi optimal untuk mengendalikan inflasi, menjaga daya beli masyarakat serta menjaga agar pemulihan ekonomi semakin menguat.

“Ini semua diharapkan dapat menjaga kecukupan pasokan, kelancaran distribusi serta keterjangkauan harga pangan pokok sehingga dapat melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah,” tambahnya.