Lifestyle

Di Belitung, Pria Tak Harus Melamar Wanita

Pengaruh budaya melayu memang begitu kental di Provinsi Bangka Belitung, terutama di Kepulauan Belitung. Pengaruh ini terasa pada upacara pernikahan.


Di Belitung, Pria Tak Harus Melamar Wanita
Ilustrasi tradisi mengentuk pintu yang ada di adat pernikahan masyarakat Provinsi Bangka Belitung. (Youtube/Indonesia Kaya)

AKURAT.CO, Pengaruh budaya Melayu memang begitu kental di Provinsi Bangka Belitung, terutama di Kepulauan Belitung. Pengaruh ini juga terasa pada upacara pernikahan di Belitung. 

Dalam adat pernikahan Belitung, tidak harus pria melamar wanita. Akan tetapi, wanita pun boleh melamar pria pendamping hidupnya. 

Dikutip dari laman Seni Budayaku, dalam masyarakat Pulau Belitung tidak mesti pria yang dominan dibanding perempuan, begitu pula sebaliknya. Semuanya diselesaikan melalui kesepakatan kedua belah pihak. Setelah sepakat dan menerima lamaran, kedua belah pihak bisa melanjutkannya ke tahap pernikahan.

Pada pelaksanaan upacara pernikahan adat Belitung, biasanya membutuhkan waktu tiga hari tiga malam. 

Hari pertama adalah mengetuk pintu. Pada hari pertama ini, calon pengantin pria tidak disertai oleh kedua orang tuanya. Sang mempelai didampingi oleh saudara dari ayah atau ibunya saja.

Rombongan mempelai pria pun tidak lantas begitu saja masuk ke dalam rumah mempelai wanita. Ada tiga pintu yang harus mereka lewati. Di Belitung, hal ini dikenal dengan istilah Berebut Lawang.

Di pintu pertama ini, sebaris pantun diucapkan oleh rombongan pengantin pria. Tuan rumah pun membalasnya dengan sebaris pantun yang diwakili oleh tukang tanak atau orang yang memasak nasi. 

Kemudian, acara berbalas pantun pun berlanjut. Intinya adalah menyampaikan maksud kedatangan rombongan tamu yang didengarkan oleh tukang tanak. 

Setelah itu, bukan berarti rintangan sudah usai. Masih ada dua pintu lagi yang harus dilalui rombongan mempelai pria.

Di pintu kedua, mereka harus berhadapan dengan Pengulu gawai, yang merupakan pemimpin hajatan. Acara berbalas pantun kembali dilakukan. Pengulu gawai pun menanyakan maksud kedatangan rombongan tamu. 

Dua pintu yang telah dilalui oleh rombongan pengantin pria belumlah cukup. Masih tersisa satu pintu lagi. Pada pintu ketiga ini, dikawal oleh Mak Inang, seorang juru rias pengantin.

Mak lnang menanyakan barang bawaan atau sire rombongan tamu yang hendak meminang. Dengan sire berarti keluarga besar rombongan tamu mempunyai niat mengikat tali persaudaraan. Lewat pintu ini, barulah rombongan tamu merasa lega. 

Antaran dan tipak yang dibawa rombongan tamu pun beralih tangan. Antaran dan tipak yang dibawa pada adat ini berupa seperangkat tempat sirih lengkap yang menyimpan tujuh belas macam barang. Hal tersebut menggambarkan jumlah rakaat salat dalam sehari. 

Demikian pula dengan sejumlah uang, yang berkelipatan lima. Angka lima melambangkan jumlah salat wajib bagi kaum muslim. Setelah itu, calon pengantin pria segera dipertemukan dengan pujaan hatinya yang segera akan dinikahinya. Akad nikah pun digelar.

Pada hari kedua, diselenggarakan acara bejamu. Acara ini lebih menyiratkan rasa persaudaraan antara dua keluarga yang telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Pada hari kedua ini, orangtua pengantin pria yang selama ini diwakilkan barulah muncul dan dipertemukan dengan pihak keluarga dan orangtua pengantin wanita. Peran Mak lnang pada hari kedua ini sangatlah besar. Bahkan, bisa dikatakan peran Mak Inang tersebut sangat mendominasi. la memandu serangkaian adat pernikahan di Belitung. 

Misalnya pada sesi saling tukar kue.

Acara ini mengandung makna bahwa mertua harus ingat akan menantunya, demikian pula sebaliknya. 

Pada hari ketiga, pasangan pengantin dimandikan dengan air kembang tujuh rupa. Acara ini dikenal dengan istilah mandik besimbor. 

Pada acara ini, kedua mempelai menginjak telur. Kemudian, berlari ke arah pelaminan. Menurut masyarakat, siapa yang mencapai pelaminan terlebih dahulu dialah yang mengatur roda kehidupan keluarganya kelak. 

Apakah kamu tertarik menikah dengan gadis Belitung?[]