News

ACT Diduga Selewengkan Dana Masyarakat, Kemensos Diminta Turun Gunung

Mantan Presiden ACT, Ahyudin, diduga menggunakan dana lembaganya untuk kepentingan pribadi.


ACT Diduga Selewengkan Dana Masyarakat, Kemensos Diminta Turun Gunung
Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Wakil Ketua MPR RI, Yandri Susanto meminta Kemensos RI melakukan audit ihwal dugaan selisih jumlah penerimaan dan penyaluran donasi oleh yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

"Sehingga dana-dana yang dikumpulkan melalui aksi filantropi dan yang mengatasnamakan yayasan itu (ACT) benar-benar bisa dipertanggungjawabkan," kata mantan Ketua Komisi VIII DPR RI itu kepada wartawan, Senin (4/7/2022).

Menurut Yandri, insiden ini menjadi momentum bagi Kemensos untuk melakukan pembenahan diberbagai lini, termasuk perangkat aturannya. Sehingga, lembaga manapun yang menghimpun dana masyarakat itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

baca juga:

"Nah, bila mana ada penyimpangan atau tidak sesuai aturan main, tentu sanksi harus ditegakkan contoh apakah misalkan yayasan itu dibubarkan atau diperingatkan," paparnya.

"Atau ada sanski untuk pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab itu sehingga nanti ada efek jera dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab penyalahgunaan dana masyarakat," sambungnya.

Selain itu, kata Yandri, tujuan dilakukannya audit guna meningkatkan kepercayaan masyarakat. Memastikan jika ACT bersalah diberi sanksi dan yang berprestasi dikasih penghargaan.

"Biar nanti publik tahu mana yayasan yang benar-benar melakukan aksi sosial atau mana yang melakukan aksi untung sendiri. Insya Allah bagi masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki bisa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial itu tidak lemah atau tidak menjadi berburuk sangka pada semua yayasan," tutupnya.

Dalam laporan berjudul "Aksi Cepat Tanggap Cuan", Tempo menyebut mantan Presiden ACT, Ahyudin, diduga menggunakan dana lembaganya untuk kepentingan pribadi. Ahyudin bahkan disebut memanfaatkan dana untuk membeli sejumlah rumah hingga transfer bernilai belasan miliar ke keluarganya. 

Laporan Tempo juga menyebut pemborosan duit lembaga terjadi di ACT. Gaji Ahyudin saja, disebut mencapai Rp 250 juta per bulan. Belum termasuk berbagai fasilitas kendaraan mulai dari Toyota Alphard, Mitsubishi Pajero Sport hingga Honda CRV. 

Ahyudin juga disebut menggunakan dana masyarakat tersebut untuk membeli rumah dan perabotan dengan nilai yang fantastis.[]