Rahmah

Abu Nawas Pingsan Setelah Berenang Menyeberangi Teluk, Baginda Pun Cemas, Begini Ceritanya

Suatu hari, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid memerintahkan Abu Nawas untuk menyeberangi sebuah teluk.


Abu Nawas Pingsan Setelah Berenang Menyeberangi Teluk, Baginda Pun Cemas, Begini Ceritanya
Ilustrasi Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Seakan tidak ada habisnya, Abu Nawas kembali diberikan tugas yang aneh oleh Baginda Raja Harun Ar-Rasyid. Namun dengan kecerdikan yang dimiliki seorang Abu Nawas, semua perintah Baginda bisa dikerjakan dengan mudah.

Hingga suatu pagi yang cerah Baginda Raja Harun Ar-Rasyid memanggil Abu Nawas. Sesampainya di istana, Baginda langsung berkata "Wahai Abu Nawas, hari ini saya punya misi lain untukmu,".

"Mohon ampun Tuan Baginda, apa yang harus hamba kerjakan,?" tanya Abu Nawas sedikit penasaran.

"Engkau tahu dan semua orang juga mengetahui bahwa kita punya teluk yang luas, bukan?" tanya Raja kemudian.

"Namun menyedihkan sekali, tak ada  seorang pun pernah menyeberang teluk itu. Saya bertanya-tanya, apakah mungkin seorang manusia bisa berenang ke seberang teluk?" lanjut Baginda Raja seperti benar-benar berharap kepada Abu Nawas.

Belum sempat menjawab, Baginda kembali berkata lagi,

"Wahai Abu Nawas, saya ingin engkau mengambil misi ini sebagai tugas terhormat!" titah Baginda dengan raut wajah yang serius.

"Mohon Ampun Baginda yang mulia, saya bukan seorang perenang yang handal," kilah Abu Nawas dengan wajah sedikit pucat.

"Saya tahu, tapi setiap orang mengetahui kalau engkau adalah pria terpintar di negeri ini. Dan engkau harus bisa mengerjakan tugas ini," desak Baginda dengan nada memaksa. 

Abu Nawas tidak bisa berkutik. Dia hanya bisa diam sambil memikirkan bagaimana caranya agar dapat menyelesaikan misi ini.

Kemudian dengan sangat terpaksa Abu Nawas berkata, "Ya, saya akan mengerjakannya Baginda Yang Mulia." 

Setelah itu, Abu Nawas berpamitan kepada Baginda dan pergi meninggalkan istana kerajaan. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Abu Nawas masih berpikir tentang misi aneh itu dan cara menyelesaikan.

Belum sempat sampai di rumahnya, tiba-tiba terbesit di pikiran Abu Nawas untuk mengunjungi teluk. Abu Nawas lalu memandangi teluk yang sangat luas itu. 

Beberapa kali Abu Nawas menarik nafasnya dalam-dalam. Pikirannya masih semrawut. Akhirnya ia duduk di bawah sebuah pohon palem. Abu Nawas masih mencoba mencari ide untuk menyiasati misi yang aneh bin mustahil itu. 

Saat itu, Abu Nawas melihat pakaian anak-anak tergeletak di atas bebatuan yang berada di sampingnya. Dalam hatinya bertanya "Di mana anak itu? mereka pasti sedang berenang di pantai,".

Seketika itu juga, kepala Abu Nawas tiba-tiba enteng. Pikirannya pun menjadi plong. Tampaknya Abu Nawas telah mendapatkan sebuah ide cemerlang. Abu Nawas lalu pulang ke rumah.

Keesokan paginya, Abu Nawas segera bergegas pergi ke pantai. Sambil tersenyum, Abu Nawas melepaskan pakaian dan cincinnya kemudian ia letakkan di pasir. Tak lupa, Abu Nawas juga melepaskan sepatunya dan meletakkannya di samping pakaiannya itu. Setelah itu, Abu Nawas kembali lagi ke rumahnya.

Satu jam kemudian, Baginda dan para menteri datang ke pantai. Mereka terkaget-kaget ketika mengetahui ada pakaian Abu Nawas yang terlihat di atas pasir. Mereka pun berspekulasi, bahwa Abu Nawas sedang berenang mengarungi lautan untuk mencapai teluk. 

"Memang luar biasa, orang ini," gumam Baginda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Akan tetapi, sebagian dari para menteri kerajaan meragukan sosok Abu Nawas karena dinilai hanya memiliki kemampuan berenang yang pas-pasan. Untuk membuktikan rasa penasaran itu, mereka semua akhirnya sepakat untuk mendatangi rumah Abu Nawas. 

Setibanya di rumah Abu Nawas, Baginda dan para menterinya hanya menemui istrinya. Sang istri mengatakan kalau Abu Nawas meninggalkan rumah pagi hari sebelumnya. 

"Kemarin ia mengatakan kepadaku bahwa ia akan berenang menyeberangi teluk. Dia berkata bahwa Yang Mulia memerintahkannya melakukan demikian. Sebenarnya saya tak tega membiarkannya pergi karena saya tahu ia bukan perenang yang handal," kata sang istri dengan raut wajah yang sedih. 

Tak lama kemudian, tiba-tiba seorang pengawal istana datang melapor, "Yang Mulia, Abu Nawas ditemukan!" 

Menteri itu kemudian bercerita jika pada sore hari, tiga nelayan di pantai melihat seorang pria berenang. Ketika mereka mendekatinya, mereka mengetahui bahwa yang berenang adalah Abu Nawas. Karena terlihat sangat lelah, mereka membantu Abu Nawas mencapai pantai. Tapi tak lama setelah itu Abu Nawas malah pingsan. 

Mendengar kabar itu, Baginda dan beberapa pengawal pergi ke pantai. Baginda lalu duduk di samping Abu Nawas. "Abu...Abu...' panggil Baginda sambil menggoyang-goyangkan tubuh Abu Nawas. 

Akhirnya Abu Nawas membuka matanya dengan pelan-pelan. Sehingga hati Raja Harun Ar-Rasyid menjadi tenang.

Baginda memegang tubuh Abu Nawas dengan erat. Baginda terlihat sangat menyesal karena telah menyebabkan Abu Nawas menderita.

Abu Nawas tersenyum tipis saat Baginda bmemeluknya dan mengatakan, "Kau hebat, Abu, saya akui selain cerdas, engkau adalah perenang yang handal,". []