Rahmah

Abu Nawas Beri Pelajaran Berharga untuk Sang Menteri Zalim, Endingnya Bikin Nyesek

Abu Nawas melihat dengan mata kepalanya sendiri jika prilaku menteri itu sangat kejam kepada masyarakat.


Abu Nawas Beri Pelajaran Berharga untuk Sang Menteri Zalim, Endingnya Bikin Nyesek
Ilustrasi Abu Nawas (pinterest.com)

AKURAT.CO  Dahulu ada seorang menteri yang dikenal jahat oleh masyarakat Baghdad. Masyarakat akhirnya menjadi takut karena prilakunya yang sangat kejam itu. Jika ia membeli suatu barang, ia pasti tidak akan mau membayarnya.

Kabar tentang meteri keji itu terdengar hingga ke telinga Abu Nawas. Hingga pada suatu ketika, Abu Nawas ingin memberi pelajaran kepada sang menteri tersebut.

Suatu waktu, Abu Nawas menyewa rumah yang lokasinya dekat dengan denga rumah sang menteri. Abu Nawas ingin secara langsung menyaksikan kekejaman menteri itu.

Benar saja, pada saat Abu Nawas memasuki rumah sang menteri, Abu Nawas melihat dengan mata kepalanya sendiri jika prilaku menteri itu sangat kejam kepada masyarakat.

Di dalam rumah rumah sang menteri, Abu Nawas melihat sebuah tiang gantungan yang digunakan untuk menggantung orang-orang yang bersalah kepada menteri itu. Cara menggantungnya pun dengan cara yang sangat sadis, yaitu kaki di atas dan kepala di bawah. 

Dengan begitu, Abu Nawas merasa yakin jika kabar-kabar tentang kejahatan menteri itu benar adanya. Ia berkata dalam hatinya, "Tunggulah pembalasanku ini,"

Suatu hari, saat sedang asyik berjalan-jalan di sudut desa, Abu Nawas melihat seorang pemuda yang sedang menggiring seekor lembu gemuk. Abu Nawas berencana untuk membeli lembu tersebut.

"Wahai anak muda, apakah lembu itu akan dijual?" Tanya Abu Nawas.

"Lembu ini tidak dijual, tuan karena ini warisan bapak hamba," jawab pemuda itu.

"Saya akan membelinya dengan harga tinggi, lebih baik dijual saja," kata Abu Nawas.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya pemuda itu bersedia untuk menjual lembu tersebut. Pikirnya, lebih baik dijual dengan harga tinggi, dimana hasilnya untuk membangun sebuah usaha.

"Baiklah, saya bersedia menjual lembu ini kepada tuan," kata pemuda itu.

"Tetapi sebenarnya bukan aku yang akan membeli lembu itu, melainkan menteri yang zalim itu. Oleh karena itu berikan harga yang pasti, sesudah itu kita membuat perjanjian dan kamu yang akan melaksanakannnya," kata Abu Nawas.

"Setuju?" Tanya Abu Nawas.

"Setuju!" jawab si pemuda. 

Lembu itu kemudian digiring ke sebuah kebun. Abu Nawas lalu meminta pemuda itu untuk menunggu di kebun.

"Aku akan ke rumah menteri itu dan setelah itu aku menemuimu," kata Abu Nawas.

"Wahai menteri, ada seorang pemuda yang akan menjual seekor lembu gemuk," kata Abu Nawas. 

"Jika anda tertarik, silahkan anda beli dengan harga yang pantas, tidak mahal, mari kita ke kebun itu," lanjut Abu Nawas.

Setibanya di kebun, tampaknya sang menteri langsung tertarik kepada lembu itu, ia bertanya kepada pemuda,

"Berapa harganya?" tanya menteri.

"Lima puluh dinar” jawab si pemuda.

"Boleh ditawar?" tanya si menteri.

"Tidak bisa, karena lembu ini warisan bapak hamba," jawab si pemuda. 

"Baik, pasti aku bayar harga itu," ujar si menteri. 

Maka ujung tali pengikat lembu itu disodorkan kepada menteri, namun ketika ditarik ternyata kosong. Rupanya diam-diam Abu Nawas telah melepas binatang itu, namun karena harga telah disepakati, pemuda itu meminta bayarannya. 

"Mana lembunya?" tanya si menteri.

"Masa hanya talinya? Aku tidak sudi membayar." 

Hingga keduanya pun berbantah-bantahan dengan sengitnya. 

"Aku minta bayarannya, kalau tidak mau bayar, kembalikan lembuku," kata si pemuda.

"Apa yang mesti kubayar, dan apa yang harus kukembalikann, hanya tali yang kau berikan kepadaku, nih, ambillah, aku tidak butuh tali." kata sang menteri.

"Kerjamu memang cuma menipu dan menganiaya orang, kamu memang zalim, yang hanya memeras  orang kecil," kata si pemuda.

Si menteri tidak menggubris lagi perkataan itu, ia berjalan pulang kerumahnya. Sementara si anak muda hatinya sangat sedih, lembu hilang, uang melayang. 

"Barangkali memang itulah nasibku. Apa boleh buat," keluhnya kecewa.[]