Rahmah

Abu Aqil dan Seruannya yang Membakar Semangat Pasukan Muslim 

Abu Aqil merupakan seorang sahabat Anshar yang pertama kali mendapat cedera akibat terkena panah di perang Yamamah.


Abu Aqil dan Seruannya yang Membakar Semangat Pasukan Muslim 
Ilustrasi Sahabat Nabi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Ketika terjadi peperangan Yamamah, yaitu perang melawan pemberontakan nabi palsu Musailamah al Kadzdzab, Abu Aqil, seorang sahabat Anshar yang pertama kali mendapat cedera akibat terkena panah. Diketahui, panah tersebut menancap antara bahu serta ulu hatinya. 

Beruntungnya, anak panah itu agak melenceng, sehingga tidak mematikan. Dan ketika hendak dicabut, mengucur deras darah dari tubuhnya yang membuatnya lemah. Atas kejadian itu, Abu Aqil diistirahatkan di dalam kemah. 

Belum berhenti disitu, pertempuran semakin memanas. Kala itu, pasukan Muslim semakin terdesak, sehingga para musuh dengan mudahnya memporak-porandakan pasukan Muslim.

Pada saat itu, Abu Aqil mendengar Ma'n bin Adi berteriak menyeru orang-orang Anshar, "Allah! Allah! Kembalilah kalian menyerang musuh-musuh kalian…!”

Hingga setelahnya, ia kembali mendengar seruan lagi agar orang-orang Anshar berkumpul dan memilih orang-orang istimewa untuk memimpin. Meski kondisinya masih terluka, Abu Aqil bangkit untuk memenuhi seruan tersebut. Hal ini kemudian diketahui oleh Abdullah bin Umar, dan berkata, “Seruan tersebut tidak ditujukan untuk orang-orang yang terluka.”

"Aku adalah lelaki Anshar, dan aku akan menyambut seruan itu walau harus merangkak…!" kata Abu Aqil.

Abu Aqil segera mengeratkan tali sabuknya dan bergerak tertatih-tatih ke tempat orang-orang Anshar berkumpul. Dalam sebuah kesempatan, Abu Aqil mengangkat pedang dengan tangan kanannya, dan berkata, "Wahai orang-orang Anshar, bergeraklah menyerang sebagaimana di perang Hunain..!"

Disebutkan bahwa dalam Perang Hunain, pasukan Muslim yang jumlahnya lebih banyak porak-poranda. Sebagian dari mereka diketahui memang baru memeluk Islam saat Fatkhul Makkah selang beberapa hari sebelum peperangan.

Bahkan dijelaskan bahwa sebagian anggota pasukan lagi, mereka masih memeluk agama jahiliahnya. Ketika itu, keadaan Rasulullah SAW cukup berbahaya, karena hanya beberapa orang saja yang menemani beliau. Kemudian Rasulullah SAW berseru, “Wahai orang-orang Anshar!”

Mendengar sabda Rasulullah SAW, para sahabat Anshar segera berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, dan mereka mulai menyerang kembali, dengan didukung sahabat muhajirin terdahulu, dan akhirnya bisa membalikkan keadaan hingga mendapat kemenangan.

Dengan demikian, seruan Abu Aqil seolah mengantar ingatan pasukan Muslim saat bersama Rasulullah SAW di Perang Hunain.  Mereka kembali bergelora untuk bertahan dan menyerang kembali pasukan Musailamah. 

Meskipun keadaannya sangat lemah, Abu Aqil tidak ingin tertinggal untuk menghadang serangan musuh. Hingga akhirnya ia jatuh terkapar tak berdaya.

Pada saat pasukan musuh telah dikalahkan dan Musailamah terbunuh, Abdullah bin Umar melihat Abu Aqil terlentang di tanah dengan nafas yang terpatah-patah. Tangan yang tadinya cedera terkena panah, kini putus dari bahunya. Lalu terdapat empat belas luka tusukan pada tempat-tempat yang mematikan. 

"Labbaik," kata Abu Aqil dengan suara cadel karena lemahnya.

"Siapa yang memperoleh kemenangan?" tanya Abu Aqil.

"Bergembiralah engkau! Musuh Allah telah terbunuh!!" kata Ibnu Umar.

Sementara itu, Abu Aqil mengangkat jarinya ke langit dan memuji Allah,  kemudian wafat.

Kemudian pada saat Ibnu Umar menceritakan peristiwa ini kepada ayahnya, Umar berkata, "Semoga Allah merahmatinya. Tak putus-putusnya ia memohon dan mencari-cari kesyahidannya. Sejauh yang aku ketahui, ia adalah sahabat Nabi SAW yang terbaik dan termasuk orang yang pertama-tama memeluk Islam (dari kalangan Anshar). Subhanallah []