Lifestyle

Aborsi Bukan Sekedar Angkat Janin yang Tak Diinginkan dari Rahim

Aborsi bukan hanya tindakan mengangkat janin dari rahim, perlu pertimbangan medis, tidak boleh dilakukan sembarangan


Aborsi Bukan Sekedar Angkat Janin yang Tak Diinginkan dari Rahim
Ilustrasi aborsi (Unsplash/Maria Oswalt)

AKURAT.CO Di telinga masyrakat awam, mendengar kata aborsi yang terpikirkan adalah cara mengeluarkan janin yang tak "diinginkan" dari rahim ibunya. Padahal dalam istilah kedokteran, aborsi ialah suatu cara untuk mengosongkan dinding rahim dari adanya polip di rahim, janin atau penebalan berlebihan pada dinding rahim.

Jadi tindakan aborsi tidak harus dilakukan untuk wanita yang sedang hamil. Namun, istilah kedokteran untuk tindakan aborsi pada wanita yang tidak hamil sering disebut uretase atau dikenal “diuret”. 

“Sebenarnya tindakan aborsi dibenarkan dalam kedokteran. Namun, orang awam menganggapnya illegal karena aborsi yang dikenal masyarakat ialah tindakan mengeluarkan janin secara paksa. Padahal ada indikasi-indikasi medis khusus yang mewajibkan seseorang untuk melakukan aborsi untuk mengeluarkan si janin tersebut,” ujar Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Ni Komang Yeni Dhana Sari, di Akurat Talk yang dikutip pada Kamis (21/10).

Berikut indikasi-indikasi medis yang diperbolehkan melakukan tindakan aborsi, berdasarkan penjelasan dari Dokter Ni Komang.

Mengancam Nyawa Bunda

Apabila suatu kehamilan bisa mengancam nyawa Bunda, maka dokter boleh menganjurkan tindakan aborsi. Biasanya hal ini terjadi, ketika sang ibu mengidap penyakit jantung saat sedang mengandung. Hal itu dikarenakan jantung Bunda bekerja lebih berat pada saat sedang mengandung.

“Jantung berat pada kehamilan, karena jantung ibu memompa darah untuk sang ibu terus ke bayi. Ke Bunda saja sudah berat apalagi harus ke bayi,” kata Ni Komang.

Namun tindakan aborsi dengan indikasi medis ini harus dilakukan observasi terlebih dahulu, dengan cara melakukan perawatan inap di rumah sakit dan dipantau terus laju detak jantungnya oleh ahli medis.

“Nanti, dari hasil observasi menetukan apakah harus melakukan aborsi atau janin bisa dilanjutkan,” ujarnya.