Rahmah

Abdullah Bin Zaid Al Anshari RA, Sahabat Nabi yang Mengedepankan Nilai-nilai Ukhuwah Insaniah

Abdullah bin Zaid Al Anshari RA adalah salah satu sahabat yang mengikuti perang Badar (Ahlu Badar).


Abdullah Bin Zaid Al Anshari RA, Sahabat Nabi yang Mengedepankan Nilai-nilai Ukhuwah Insaniah
Ilustrasi Sahabat Nabi (Bincang Syariah)

AKURAT.CO  Dikisahkan, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika sekelompok pasukan kembali dari medan pertempuran, Abdullah bin Zaid Al Anshari RA masuk ke dalam masjid. Kemudian Khalifah Umar memanggilnya dan bertanya tentang kabar yang dibawanya. Abdullah bin Zaid berkata, "Sesungguhnya aku membawa berita, ya Amirul Mukmimin…"

Abdullah bin Zaid kemudian menceritakan bahwa dalam suatu pertempuran yang tengah berlangsung, ada sekelompok sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang sempat melarikan diri dari medan perang. Sehingga mereka merasa sedih ketika melihat Khalifah Umar. 

Mendengar cerita dari Abdullah bin Zaid itu, Khalifah Umar berkata, "Janganlah kalian bersedih hati, wahai kaum muslimin. Sesungguhnya kalian adalah dalam kumpulanku."

Khalifah Umar lalu menghibur mereka yang sedang bersedih tersebut, dimana diantaranya adalah Mu'az al-Qary. Setelahnya, Khafilah Umar menjelaskan kepada sahabat Sa'ad bin Ubaid, bahwa pada zaman Nabi SAW juga pernah terjadi seorang sahabat yang mundur dari pertempuran,  kemudian Rasulullah SAW memakluminya. Hingga setelah beberapa waktu lamanya, Rasulullah SAW memberi gelar kepada sahabat tersebut al-Qari, karena prestasi dan kemampuannya dalam hal Al-Qur’an.

Diketahui Abdullah bin Zaid Al Anshari RA adalah salah satu sahabat yang mengikuti perang Badar (Ahlu Badar). Pada saat terjadi penyerbuan kota Madinah oleh pasukan Yazid bin Muawiyah pada Bulan Dzulhijjah tahun 36 hijriah, Amir para sahabat Anshar, yaitu Abdullah bin Hanzhalah memba'iat orang-orang Madinah atas maut. 

Sehingga ketika hal ini dilaporkan kepada Abdullah bin Zaid, ia berkata, "Aku tidak berba'iat kepada siapapun untuk mati, sepeninggal Rasulullah SAW."

Meskipun penyerangan kota Madinah sangatlah dilaknat, akan tetapi bagi Abdullah bin Zaid, ia tidak ingin ‘berjuang’ mati-matian karena yang mereka hadapi adalah masih sesama saudara muslim. Ia lebih mengedepankan ishlah, perbaikan hubungan dengan mereka.

Hanya saja, diketahui setelahnya, ternyata kemudian pasukan Yazid bin Muawiyah tersebut sangatlah zalim dan kejam. Akibatnya, banyak  penduduk Madinah, bahkan termasuk ratusan atau mungkin ribuan sahabat Rasulullah SAW yang menjadi korban pembantaian oleh pasukan dari Syam itu. Wallahu A'lam. []