News

Abdillah Toha: Itu Jaksa Penuntut Kok Suaranya Seperti Pembela


Abdillah Toha: Itu Jaksa Penuntut Kok Suaranya Seperti Pembela
Salah satu pendiri Partai Amanat Nasional Abdillah Toha (Screencapture)

AKURAT.CO, Salah satu pendiri Partai Amanat Nasional Abdillah Toha menyayangkan tuntutan 1 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap kedua penyiram air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan.

Abdillah menilai tuntutan JPU seolah berpihak terhadap terdakwa. Hal ini disampaikannya lewat Twitter menggunakan akun @TA_AbdillahToha.

"Bagaimana ini pak presiden? Setelah KPK lumpuh sekarang giliran ini. Legacy apa yang akan bapak tinggalkan? Itu jaksa penuntut kok suaranya seperti pembela," tulis Abdillah, Jumat (12/6/2020).

Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette selaku dua orang terdakwa penyerang Novel dituntut 1 tahun penjara karena dinilai terbukti melakukan penganiayaan terencana yang mengakibatkan luka-luka berat.

"Menuntut supaya menjadi hakim pengadilan tindak pidana korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara menyatakan terdakwa Roni Bugis terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana secara bersama-sama yaitu melakukan perbuatan penganiayaan dengan rencana lebih dahulu yang mengakibatkan luka-luka berat sebagaimana dakwaan subsider. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Roni Bugis berupa pidana penjara selama 1 tahun dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan," kata jaksa penutut umum (JPU) Kejari Jakarta Utara Ahmad Fatoni di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6).

Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan rekan Ronny, Rahmat Kadir Mahulette juga dituntut 1 tahun penjara.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi tuntutan ringan yang disampaikan jaksa penuntut umum terhadap kedua pelaku teror atas dirinya, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis.

Menurut Novel, ada skenario di balik proses hukum terhadap keduanya yang kini dipertontonkan kepada publik.

"Karena, kan maksudnya orang-orang yang bikin skenario ini kan dua. Pertama bikin formalitas persidangan biar ada kepastian hukum seolah-olah tidak bisa dituntut lagi gitu kan. Yang kedua mendongkolkan biar saya bertambah jengkel gitu lho," ujar Novel saat dikonfirmasi awak media, Jumat (12/6/2020).

Dari rangkaian peristiwa yang menimpa dirinya, masyarakat bisa menilai baik proses penanganan perkara yang berlarut hingga di tahap penuntutan yang dinilainya tak sebanding dengan perbuatan pelaku.[]