Ekonomi

AAUI Sebut Premi Industri Asuransi Umum Naik Rp46,04 triliun di Semester I-2022

AAUI Sebut Premi Industri Asuransi Umum Naik Rp46,04 triliun di Semester I-2022
Ilustrasi Asuransi (TEKMARK.NET.AU)

AKURAT.CO Asuransi Umum diketahui sampai saat ini mencatatkan pertumbuhan premi yang didapat sampai periode 6 bulan pertama di tahun ini. Diketahui, pasar asuransi properti pun mash mendominasi.

Hal ini diketahui dari catatan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI). Tercatat premi industri asuransi umum berada di angka Rp46,04 triliun, jumlah tersebut naik 20 persen bila dibandingkan oleh periode tahun lalu yang tumbuh sebesar Rp38,37 triliun.

Lini bisnis asuransi memang masih memberikan kontribusi premi yang besar bila dibandingkan dengan produk lainnya yang mencapai 32,5 persen. Ini ditopang berkat pertumbuhan premi asuransi properti sebanyak 36,4 persen secaray tahunan yang nilainya mencapai Rp14,96 triliun.

baca juga:

Ketua Departemen Statistik AAUI, Esti Handayani mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang membuat lini bisnis properti ini tumbuh di separuh pertama tahun ini. Dimana salah satunya ditunjang berkat permintaan properti yang juga mengalami peningkatan.

Esti kemudian mencontohkan permintaan properti komersial yang pada periode kuartal 2/2022 tumbuh 1,58 persen secara tahunan dengan permintaan tertinggi terjadi pada segmen lahan industri dan warehouse complex, yang mendorong kenaikan nilai properti itu sendiri.

Hal tersebut juga sejalan dengan kredit-kredit yang berkaitan dengan properti seperti KPR, kredit real estate, dan kredit konstruksi yang juga kompak naik pada periode yang sama.

"Kredit KPR naik 6,5 persen lalu kredit real estate naik 8,1 persen dan kredit konstruksi yang naik 1,7 persen," ujar Esti dalam keterangan resminya, Sabtu (24/9/2022).

Lebih lanjut, Esti melihat ini juga dikarenakan pendemi Covid-19 yang sudah mulai melandai sehingga ekonomi secara perlahan mulai pulih termasuk di industri properti itu sendiri.

Dari sisi klaim, lini bisnis properti juga masih mengalami kenaikan hingga 42 persen dengan nilai yang dibayar sebesar Rp3,99 triliun. Ini sejalan dengan klaim dibayar secara industri yang juga tumbuh 35,7 persen menjadi Rp17,79 triliun.

"Secara umum, bisnis properti juga ditunjang oleh beberapa proyek yang sudah selesai dan jika sudah selesai otomatis berpindah ke industri asuransi,” pungkasnya.[]