News

80 Kasus Cacar Monyet Dikonfirmasi di 12 Negara, WHO: Wabah Ini Tak Lazim

WHO heran lantaran cacar monyet menyebar di negara-negara nonendemik dan kebanyakan kasus tak punya riwayat perjalanan ke negara endemik.


80 Kasus Cacar Monyet Dikonfirmasi di 12 Negara, WHO: Wabah Ini Tak Lazim
Cacar monyet paling sering terjadi di daerah terpencil di Afrika Tengah dan Barat. (BBC)

AKURAT.CO Lebih dari 80 kasus cacar monyet telah dikonfirmasi di setidaknya 12 negara, menurut WHO tanpa menyebut nama negaranya. Selain itu, ada 50 kasus suspek yang sedang diselidiki. WHO pun memperingatkan kemungkinan akan ada lebih banyak kasus dilaporkan.

Dilansir dari BBC, cacar monyet paling sering terjadi di daerah terpencil di Afrika Tengah dan Barat. Namun, infeksi ini telah dikonfirmasi di 9 negara Eropa, serta Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia.

Penyakit ini merupakan infeksi virus langka yang biasanya ringan. Kebanyakan orang sembuh dalam beberapa pekan, menurut Dinas Kesehatan Nasional Inggris.

baca juga:

Virus ini tak mudah menyebar di kalangan masyarakat. Risikonya terhadap masyarakat luas dianggap sangat rendah.

Tak ada vaksin khusus untuk cacar monyet. Namun, vaksin cacar air menawarkan perlindungan 85 persen lantaran kedua virus tersebut sangat mirip.

Sejauh ini, lembaga kesehatan masyarakat di Eropa telah mengonfirmasi kasus di Inggris, Spanyol, Portugal, Jerman, Belgia, Prancis, Belanda, Italia, dan Swedia.

Menurut pernyataan WHO pada Jumat (20/5), wabah baru-baru ini tak lazim lantaran terjadi di negara-negara nonendemik. Organisasi ini mengaku bekerja sama dengan negara-negara terdampak dan lainnya untuk memperluas pengawasan penyakit guna menemukan dan membantu masyarakat yang terpengaruh.

Belum jelas mengapa wabah yang tak lazim ini terjadi sekarang. Menurut penjelasan lainnya, virus ini diduga berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk berkembang.

"Saat kita memasuki musim panas, dengan banyaknya pertemuan massal, festival, dan pesta, saya khawatir penularannya dapat meningkat," ujar Direktur Regional WHO Eropa Hans Kluge.