News

76 Tahun Kebangkitan PETA, Rektor Unhan: Bung Karno dan Ulama Jadi Tonggak Pertahanan Indonesia

76 Tahun Kebangkitan PETA, Rektor Unhan: Bung Karno dan Ulama Jadi Tonggak Pertahanan Indonesia


76 Tahun Kebangkitan PETA, Rektor Unhan: Bung Karno dan Ulama Jadi Tonggak Pertahanan Indonesia
Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Laksmana Madya Amarulla Oktavian (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Laksmana Madya Amarulla Oktavian mengatakan para tokoh Pembela Tanah Air (Peta) menjadi dasar bagi TNI untuk mempertahankan keamanan negara dan keutuhan NKRI hingga masa depan.

Di balik pendirian Peta itu, kata Amarulla, terdapat tiga unsur penting, yaitu Bung Karno, tokoh ulama, dan Jepang. Ketiga pihak tersebut mendirikan Peta yang bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dewasa ini.

"Saat itu 1943 ada tiga unsur utama yang berperan, yaitu peran ulama Islam, Bung Karno yang saat itu belum menjabat sebagai presiden, kemudian peran tentara Jepang," kata Amrulla saat menjadi pembicara dalam acara peringatan Peta Ke-76 Peta yang diselenggarakan Yayasan Peta secara virtual pada Minggu (14/2/2021).

Menurut dia, unsur ulama Islam diwakili oleh KH Mas Mansyur dan Gatot Mangkoepradja. KH Mas Mansyur merupakan tokoh Muhammadiyah yang juga salah satu anggota Empat Serangkai Putera itu membawa suara kaum santri.

Sedangkan Gatot Mangkoepradja menulis seracik surat kepada Panglima Tentara Jepang untuk membentuk barisan pemuda lokal untuk membela Tanah Air. Tentara Jepang kemudian membentuk penjabaran teknis dari Tokyo untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serbuan pasukan sekutu.

"Di dalam surat itu yang sangat heroik adalah tinta yang digunakan itu berasal dari darah Raden Mangkoepradja sendiri," jelas dia.

Tak kalah penting, lanjut Amrulla, yaitu peran Bung Karno yang melakukan politik kooperatif. Bung Karno mengajak rakyat untuk menjadi tentara yang terlatih sebagai jalan menuju kemerdekaan Indonesia.

Dalam perjalanan Peta pada masa lalu, kata Amrulla, turut mengawal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Seperti salah satu komandan kompi, yaitu Chudanco Peta Latief Hendraningrat yang menjadi pengibar bendera Sang Saka Merah Putih.

"Peta juga berepran penting di dalam perjuangan 1945 sampai 1949 dengan melahirkan doktrin perang gerilya. Di sini Panglima Soedirman dan para petinggi TNI lainnya saat itu sangat memahami bagaimana perang gerilya untuk menghadapi penjajah Belanda," lanjut dia.