Rahmah

7 Pembantu Nabi dan Cara Beliau Memperlakukan Mereka


7 Pembantu Nabi dan Cara Beliau Memperlakukan Mereka
ilustrasi Masjid (umma)

AKURAT.CO, Tidak ada yang mampu menandingi akhlak Rasulullah. Beliau adalah sosok yang menghormati semua orang, termasuk menghormati para pembantunya. Beliau memiliki banyak budak yang kemudian beliau bebaskan. Berikut beberapa nama budak tersebut:

Pertama, Ummu Aiman. Ia adalah pengasuh yang melayani Rasulullah semenjak ditinggal ibunya. Beliau begitu menghormatinya hingga menganggapnya sebagai Ibu sendiri. “Ummu Aimana adalah ibu setelah ibuku,” Rasulullah berucap demikian.

Kedua, Anas bin Malik. Ia adalah anak kecil yang dahulunya dibawa berkunjung oleh Abu Thalhah ke rumah Rasulullah dan ia menawarkan Anas kecil untuk menjadi pembantunya. Ia adalah pembantu kecil Rasulullah yang amat disayangnya.

Ketiga, Tsauban. Dia merupakan salah seorang budak Rasulullah yang begitu mencintai beliau dan bahkan tak mau lepas dan jauh dari beliau. Ia selalu menginginkan dekat dengan Rasulullah di mana pun.

Keempat, Hunain. Ia adalah budak yang senantiasa melayani Rasulullah berwudhu dalam tempayangnya atau wadahnya sendiri. Bukan dialirkan airnya. Akan tetapi ia menyiapkan hal-hal yang Rasulullah butuhkan setiap hendak wudhu.

Kelima, Safinah (nama pemberian nabi). Ia adalah budak Ummu Salamah yang kemudian dibebaskan dengan syarat, yakni melayani Rasulullah sampai beliau wafat. Safinah merasa senang selama menjadi pembantu Nabi sebab merasa nyaman.

Kelima, Syurqan. Ia merupakan salah satu yang ikut memandikan jenazah Rasulullah. Ia salah satu budak yang beruntung sebab hingga Rasulullah wafat pun ia masih membantunya.

Keenam, Rabiah ibn Ka’b al-Aslami. Ia adalah budak yang tinggal bersama Rasulullah dan selalu siap siaga dalam memenuhi kebutuhan beliau. Ia seorang budak yang walaupun sibuk dengan membantu Rasulullah, akan tetapi hatinya selalu riang.

Dan ketujuh, Abu Hudzaifah. Ia adalah seorang budak Ummu Salamah, seorang yang banyak menukilkan hadist tentang akhlak Rasulullah. Kesempatannya menjadi pembantu Nabi ia lakukan untuk memukul kehidupan Nabi dengan memperhatikan dan mentauladani akhlaknya.

Budak-budak Rasulullah itu diperlukan dengan cara yang terbaik, hingga pada akhirnya semua mereka dibebaskan Rasulullah Saw dan menjalankan kehidupan normal sepertinya manusia merdeka pada umumnya.[]