News

65 Pemuka Agama dan Pembuat Kebijakan Gelar Dialog Bahas Hubungan Muslim-Budha


65 Pemuka Agama dan Pembuat Kebijakan Gelar Dialog Bahas Hubungan Muslim-Budha
Debbie Affianty anggota lembaga hubungan luar negeri PP Muhammadiyah, Dr Bashir Ansari, Prof Walmoruwe Piyarathana dan Prof Mohammed Abu-Nimer saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/12/2019). (AKURAT.CO/Muslimin)

AKURAT.CO, Pusat Dialog Internasional (KAICIID) yang berpusat di Wina dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyelenggarakan lokakarya regional pada 18-19 Desember 2019 di Jakarta. Lokakarya ini melibatkan lebih dari 65 pemimpin agama dan pembuat kebijakan dari lima negara yang berbeda sebagai bagian dari upaya untuk mempromosikan pemahaman dan kerja sama antara komunitas keagamaan di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Lokakarya yang bertema "Membina dialog antar-agama dan intra-agama untuk mencegah dan mengurangi konflik di Asia Selatan dan Tenggara" ini diselenggarakan bersama oleh KAICIID dan OKI dalam kemitraan dengan Pusat Dialog dan Kerjasama Antar Peradaban Indonesia (CDCC) dan Jaringan Gusdurian yang berbasis di Jakarta.

Ini juga meramalkan partisipasi perwakilan senior dari lembaga Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Dinamika intra dan antaragama di Asia Selatan dan Tenggara menjadi semakin bermasalah selama dekade terakhir. Meningkatnya intoleransi, baik sepanjang garis etnis atau agama, telah menyebabkan perpecahan dan mengangkat masalah keamanan di berbagai negara di wilayah tersebut.

Sekretaris Jenderal KAICIID Faisal bin Muaammar menyebutkan, lokakarya ini bertujuan untuk menyediakan platform untuk dialog dan pertukaran hubungan antaragama di Asia Selatan dan Tenggara, untuk memfasilitasi kolaborasi antara para pemimpin agama dari berbagai latar belakang agama, dan untuk membina hubungan dengan para pembuat keputusan di tingkat regional.

“Jika kita ingin melawan efek intoleransi, yang telah menjadi tren yang mengkhawatirkan tidak hanya di sini di Asia Tenggara, tetapi di seluruh dunia, kita harus fokus pada kebutuhan untuk mengintegrasikan berbagai ideologi, cara hidup yang berbeda, dan agama yang berbeda. keyakinan ”, kata Faisal bin Muaammar, Jakarta, Kamis (18/12/2019).

Menurut Faisal, topik-topik utama yang akan dibahas selama lokakarya termasuk peran para pemimpin agama dalam mendeteksi sentimen kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan online, fasilitasi akses yang aman ke situs-situs suci dan cara-cara untuk melindunginya, serta berbagai tantangan terkait dengan inklusifitas dalam sektor pendidikan.

“Melalui pertemuan ini, OKI berharap untuk lebih melibatkan para pemimpin agama dan pembuat kebijakan dalam dialog konstruktif tentang bagaimana masyarakat multi-agama, termasuk komunitas Buddhis dan Muslim, di seluruh wilayah dapat bersatu bukan hanya untuk kesejahteraan para pengikut Islam dan Buddha tetapi untuk kemajuan umat manusia pada umumnya," kata Sekretaris Jenderal OKI, Yousef Al-Othaimeen.

Pertemuan di Jakarta adalah yang kedua dari jenisnya, mengikuti lokakarya yang berlangsung di Bangkok, Thailand pada tahun 2017 dengan partisipasi dari 70 pemimpin agama dan pembuat kebijakan dari wilayah tersebut. Berdasarkan masukan dari peserta acara, KAICIID memulai program negaranya di Myanmar.

International Dialogue Centre (KAICIID) adalah organisasi antar pemerintah yang mempromosikan dialog untuk membangun perdamaian di daerah konflik. Ini dilakukan dengan meningkatkan pemahaman dan kerja sama antara orang-orang dari budaya yang berbeda dan pengikut agama yang berbeda. Pusat ini didirikan oleh Austria, Arab Saudi dan Spanyol. Tahta Suci adalah Pengamat Pendiri. Dewan Direksinya terdiri dari perwakilan-perwakilan terkemuka dari lima agama besar dunia (Budha, Kristen, Hindu, Islam, dan Yahudi). Dewan merancang dan mengawasi program-program Centre.

Organisasi Kerjasama Islam (OKI), didirikan pada tahun 1969, adalah organisasi antar pemerintah terbesar kedua setelah PBB dengan keanggotaan 57 negara yang tersebar di empat benua. Organisasi adalah suara kolektif dunia Muslim. Ini berusaha untuk melindungi kepentingan dunia Muslim melalui promosi perdamaian internasional, keamanan dan harmoni dalam kerja sama dengan negara-negara di dunia.[]