News

6 Produsen Minyak Goreng Tutup, PKS: Segera Bentuk Lembaga Pengelola DMO CPO!

6 Produsen Minyak Goreng Tutup, PKS: Segera Bentuk Lembaga Pengelola DMO CPO!
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto (dpr.go.id)

AKURAT.CO Harapan masyarakat agar kelangkaan minyak goreng (migor) segera berakhir tampaknya belum ada tanda-tanda terpenuhi. Bahkan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) melaporkan saat ini ada enam produsen migor yang berhenti produksi karena tidak mendapat pasokan CPO (crude palm oil).

Menanggapi hal ini, Anggota Komisi VII Fraksi PKS, Mulyanto mendesak pemerintah untuk segera membentuk lembaga pengelola CPO DMO minyak goreng. Hal ini guna memastikan aliran CPO DMO ini lancar dan sehat.

"Kalau perlu dibentuk lembaga pengelola CPO DMO migor. Termasuk, secara akurat perlu dipertimbangkan apakah angka DMO sebesar 20 persen dari kuota ekspor ini sudah memadai, pasca meletusnya perang Rusia-Ukraina," kata Mulyanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/3/2022). 

baca juga:

Mulyanto pun meminta Menteri Perindustrian untuk segera buka suara dan bertindak mengatur industri minyak goreng ini.

"Menteri Perindustrian kita ini terkesan pendiam soal minyak goreng. Padahal masyarakat sudah lama teriak-teriak," ujarnya.

Menurutnya, antarkementerian sebagai sebuah tim tampak tidak kompak. Maka dari itu, ia meminta agar antarkementerian terus berkoordinasi secara intens komprehensif dari hulu hingga hilir.

"Agar soal kelangkaan migor ini segera diselesaikan," imbuhnya.

"Jangan berhenti pada kebijakan di bagian hilir, sementara bagian hulunya tidak dibenahi. Kelangkaan ini sudah lewat satu bulan, apalagi sebentar lagi kita segera akan memasuki bulan Ramadan," tegas Mulyanto. 

Ia juga menuturkan, pemerintah harus dapat memastikan agar aliran dari kuota DMO CPO yang dipatok pada harga sebesar Rp9.300/kg berjalan efektif, lancar mengalir masuk ke industri migor. Sehingga tingkat utilitas industri ini terjaga tetap normal.  

"Ini sudah enam produsen migor tutup. Jangan nunggu lebih banyak korban produsen lagi, dan kelangkaan migor semakin menggila," tandas politikus senior PKS ini.

Sebagai informasi, terkait dengan kegiatan ekspor CPO, maka industri migor dapat dibagi menjadi tiga jenis: produsen yang terintegrasi (pasar ekspor sekaligus pasar domestik), produsen migor domestik (hanya pasar domestik) dan produsen migor ekspor (hanya pasar ekspor). 

Produsen terintegrasi (ekspor-domestik) tidak menghadapi masalah terkait pasokan CPO DMO. Karena untuk produsen jenis ini, kuota CPO DMO-nya dapat diambil langsung dari dirinya sendiri, yakni dengan menyisihkan 20 persen dari kuota ekspor CPO-nya. Ini soal kantong kiri dan kantong kanan. 

Yang bermasalah adalah produsen migor domestik.Bila tidak memiliki relasi bisnis dengan produsen ekspor akan kesulitan mendapat pasokan CPO DMO. Sebab sumber CPO DMO datangnya dari produsen ekspor ini. Produsen migor domestik ini tidak mengambil pasokan CPO dari pasar umum, karena produknya bisa tidak mengejar HET (harga eceran tertinggi). 

Sementara itu produsen CPO ekspor, juga punya masalah. Mereka punya pekerjaan rumah tambahan, yakni harus menyalurkan CPO DMO sebanyak 20 persen dari kuota ekspornya ke produsen migor domestik, yang selama ini kewajiban tersebut tidak ada. []