News

6 Kasus Menggemparkan Dokter Salah Operasi, Keliru Cabut Testis hingga Kedua Payudara Pasien

Kasus malpraktik di beberapa wilayah ini membuat pasien menuntut kompensasi hingga triliunan rupiah


6 Kasus Menggemparkan Dokter Salah Operasi, Keliru Cabut Testis hingga Kedua Payudara Pasien
Ilustrasi prosedur operasi (Shutterstock)

AKURAT.CO, Beberapa waktu lalu, ramai diberitakan kasus di mana seorang dokter bedah di Austria melakukan kesalahan saat operasi. Dilaporkan gara-gara kelalaiannya itu, ia mengamputasi kaki yang salah pada seorang pasien lansia.

Sayangnya, kasus-kasus malpraktik fatal semacam itu pada kenyataannya kerap terjadi. Entah karena kurangnya keterampilan atau faktor lainnya, beberapa pasien pun akhirnya harus menjadi pihak yang paling dirugikan. 

Berikut 6 kasus di antaranya yang berhasil dihimpun AKURAT.CO pada Rabu (8/12) dari berbagai sumber. 

1. Dokter lalai memeriksa golongan darah pendonor, pasien transplantasi tewas

6 Kasus Menggemparkan Dokter Salah Operasi, Keliru Cabut Testis hingga Kedua Payudara Pasien - Foto 1
 AP Photo

Duke University Hospital yang berlokasi di Durham, North Carolina menjadi fasilitas medis yang bergengsi dan dihormati. Namun, pada tahun 2003, rumah sakit itu mendadak menjadi topik berita nasional ketika mereka melakukan transplantasi jantung dan paru-paru pada seorang pasien berkebangsaan Meksiko bernama Jesica Santilian.

Dilaporkan, sebelum operasi berlangsung, para dokter yang bertanggung jawab tidak mengecek darah dari pendonor organ, apakah cocok satu sama lain atau tidak. 

Itu sebenarnya adalah prosedur medis standar, tetapi mereka lalai dalam hal itu. Imbasnya, usai menjalani operasi transplantasi pada 7 Februari 2003, alih-alih nyawanya terselamatkan, Jesica justru mengalami gangguan fatal. Remaja 17 tahun itu mengalami kerusakan otak parah dan tubuhnya mengalami syok dan mati rasa. 

Baru setelah itu, penyedia layanan kesehatan setempat menyadari bahwa donor organ baru memiliki golongan darah yang berbeda dengan Jesica. James Jaggers, ahli bedah transplantasi Jesica menemukan bahwa hasil tes darah membuktikan bahwa golongan darah organ adalah tipe A. Sementara golongan darah Jesica (O-Positif).

Mirisnya, rumah sakit sempat menutupi kesalahan tersebut selama 11 hari, kemudian mereka baru mengumumkannya untuk mencari donor lain. Pada 20 Februari, Jesica menerima jantung dan paru-paru baru setelah donor baru ditemukan pada 19 Februari 2003.

Namun, itu sudah terlambat karena Jesica terlanjur mengalami kerusakan otak yang fatal. Dokter bersedia bertanggung jawab atas kesalahan tersebut, dan rumah sakit menerapkan sistem baru untuk memeriksa ulang transplantasi untuk mencegah kesalahan serupa terjadi.