News

6 Buruh yang Geruduk Kantor Gubernur Banten Jadi Tersangka

Enam buruh yang ditetapkan sebagai tersangka masing-masing berinisial AP (46), SH (33), SR (22), SWP (20), OS (28), dan MHF (25).

6 Buruh yang Geruduk Kantor Gubernur Banten Jadi Tersangka
Kepolisian saat melakukan konferensi pers soal penangkapan enam tersangka yang menggeruduk kantor Gubernur Banten Wahidin Halim di Mapolda Banten, Senin (27/12/2021).(Kompas.com). (Istimewa)

AKURAT.CO, Penyidik Polda Banten menetapkan enam buruh yang menggeruduk kantor Gubernur Banten Wahidin Halim sebagai tersangka pengrusakan dan penghinaan.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga menyebutkan, enam buruh yang ditetapkan sebagai tersangka masing-masing berinisial AP (46), SH (33), SR (22), SWP (20), OS (28), dan MHF (25).

AP, SR, SWP, dan OS merupakan warga Kabupaten Tangerang, Banten. Kemudian, SH warga Cilegon, Banten, dan MHD warga Pandeglang, Banten. Keenamnya ditangkap pada 25 dan 26 Desember 2021.

baca juga:

"Pasca-penerimaan laporan polisi, Ditreskrimum Polda Banten bertindak cepat dengan mengidentifikasi pelaku berdasarkan dokumentasi yang disampaikan pelapor," ucap Shinto dalam keterangannya, Senin (27/12/2021). 

"Data pelaku diidentifikasi dengan menggunakan alat face recognizer Unit Inafis Ditreskrimum Polda Banten," sambung dia.

Shinto menjelaskan, dari enam tersangka, dua orang berinisial OS dan MH ditahan. Sedangkan empat lainnya tidak dilakukan penahanan karena ancaman pidana di bawah lima tahun.

"Dua tersangka disangkakan Pasal 170 KUHP tentang pengrusakan secara bersama-sama, dan empat tersangka disangkakan Pasal 270 KUHP tentang menghina kekuasaan yang ada di Indonesia," jelasnya.

Shinto menambahkan kepolisian juga masih melakukan pengembangan, dan memburu pelaku perusakan pintu ruang kerja Gubernur Banten Wahidin Halim.

Sebagai informasi, Kantor Wahidin digeruduk oleh buruh saat melakukan aksi unjuk rasa menuntut revisi besaran Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Provinsi Banten tahun 2022, pada 22 Desember 2021.

Kuasa hukum Wahidin melaporkan aksi itu ke polisi pada 24 Desember 2021.

Kapolda Banten Irjen Pol Rudy Heriyanto berujar, penggerudukan bermula saat Polres Serang Kota dan instansi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten lain mengizinkan 50 massa memasuki kantor provinsi itu. 

"Personel Polres Serang Kota telah berkoordinasi dengan Kadisnaker (Kepala Dinas Ketenagakerjaan) dan Asda (Asisten Daerah) Pemprov Banten untuk menerima 50 perwakilan massa buruh guna beraudiensi dan menyampaikan aspirasi secara langsung," papar dia dalam keterangan tertulisnya, 24 Desember 2021. 

Menurut Rudy, para buruh kemudian memasuki ruang Kadisnaker di kantor Pemprov Banten. Namun, ruang tersebut tak cukup untuk menampung massa yang ada.

Buruh lantas meminta untuk bertemu dengan Sekretariat Daerah (Sekda) Pemprov Banten.

Rudy mengatakan, Sekda Pemprov Banten saat itu berhalangan menemui buruh lantaran ada kegiatan lain. Tak berhenti di situ, buruh yang ada meminta untuk bertemu dengan Wahidin. Mereka kemudian langsung menuju ruang kerja Gubernur Banten. 

"Setibanya di ruang kerja Gubernur Banten (Wahidin), massa tidak bertemu dengan Gubernur dan melakukan beragam aksi di dalam ruang kerja Gubernur," ucap Rudy. 

"Termasuk mengambil beberapa minuman yang ada, baik di dalam kulkas, juga di atas meja di dalam ruangan kerja Gubernur tersebut," sambung dia. []