News

51,3 Persen Masyarakat Menilai Program Bantuan Tunai Tidak Tepat Sasaran

51,3 Persen Masyarakat Menilai Program Bantuan Tunai Tidak Tepat Sasaran


51,3 Persen Masyarakat Menilai Program Bantuan Tunai Tidak Tepat Sasaran
Warga menunjukkan uang bantuan sosial tunai (BST) di halaman Masjid Jami Al-Hidayah, RW 01, Bedahan, Depok, Selasa (16/02/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Hasil survei dari lembaga survei Indonesia Political Opinion (IPO) menujukkan bahwa sejumlah program sosial yang dicanangkan pemerintah dinilai tak tepat sasaran. Adapun ketiga program yang disurvei adalah bantuan tunai, pembagian sembako dan Kartu Prakerja. 

Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah menyebut, program bantuan tunai hanya mendapatkan 29 persen responden yang menyatakan program tersebut tepat sasaran. Sedangkan 51,3 persen tidak tepat sasaran. 

"Ini cukup menarik, karena selama program ini berjalan ternyata hanya 29,9 persen masyarakat yang menyatakan bantuan tunai ini tepat sasaran," ujar Dedi dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/4/2021). 

Sementara untuk pembagian sembako, mayoritas responden menyatakan bahwa program tersebut tepat sasaran. Angkanya cukup tinggi, yaitu sebesar 61,7 persen. 

"Tetapi ini juga dianggap tidak tepat 63 persen. Jadi rata-rata semua program dianggap masalahnya ada di ketidaktepatan penerima," katanya. 

Selain itu, survei IPO juga merilis pengadaan program Kartu Prakerja. Namun, hanya 23 persen responden yang menilai program ini tepat sasaran. Kemudian hanya 32 persen yang menyatakan program tersebut efektif. 

"Kartu Prakerja itu sudah dianggap tak tepat sasaran sekaligus dianggap juga tidak efektif, yaitu 44 persen menyatakan tidak efektif," ucapnya. 

Meski demikian, menurut Dedi, mayoritas masyarakat mengaku puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo selama penanganan pandemi Covid-19. Sebesar 56 persen menyatakan puas terhadap pria yang akrab disapa Jokowi itu. 

"Terlihat kejomplangan antara tingkat kepuasan terhadap Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Presiden Jokowi mendapat tingkat kepuasan sebanyak 56 persen dari masyarakat, sedangkan Wapres Ma'ruf Amin hanya 36 persen," tandasnya. 

Dedi mengatakan, tingkat kepuasan antara Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin sama-sama terbagi ke dalam tiga hal, yaitu bidang sosial, ekonomi, dan politik-hukum. 

Presiden Jokowi mendapat tingkat kepuasan cukup baik dalam bidang sosial dan ekonomi. Namun, tidak dalam tingkat kepuasan di bidang politik-hukum. 

"Di bidang sosial, Presiden Jokowi mendapatkan tingkat kepuasan 58 persen, bidang ekonomi 55 persen, dan bidang politik dan hukum memang rendah, yaitu 43 persen, lebih besar yang menyatakan tidak puas yaitu sebesa 49 persen," tuturnya. 

"Untuk Wapres Ma'ruf Amin mendapatkan tingkat kepuasan di bidang sosial sebanyak 40 persen, bidang ekonomi hanya 29 persen, dan bidang politik-hukum hanya 38 persen," sambungnya.[]

Bayu Primanda

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu