News

5 Tragedi Pertandingan Sepak Bola Paling Berdarah Selain Kanjuruhan, 300 Lebih Nyawa Melayang 

5 Tragedi Pertandingan Sepak Bola Paling Berdarah Selain Kanjuruhan, 300 Lebih Nyawa Melayang 
Gambar menunjukkan fans Juventus yang mencoba lari dari bencana di Stadion Heysel di Belgium tahun 1985, yang menewaskan 39 nyawa dan melukai 600 lainnya (@Eamonn McCabe)

AKURAT.CO  Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10) telah menjadi tragedi berdarah, tidak hanya bagi dunia sepak bola Indonesia, tetapi juga dunia. 

Sedikitnya 125 orang telah dikonfirmasi tewas dalam kericuhan di Kanjuruhan, usai para suporter Arema FC menyerbu lapangan dan kemudian direspons oleh tembakan gas air mata dari aparat. Sebanyak 300 orang lainnya juga dilaporkan menjadi korban luka-luka, dengan setidaknya lima mobil polisi di luar stadion dirusak dan dibakar.

Dengan jumlah korban yang luar biasa itu, tragedi Kanjuruhan telah dicap menjadi salah satu bencana paling mematikan di dunia.

baca juga:

Nahas, kericuhan atau bahkan bencana dalam pertandingan sepak bola sebenarnya bukanlah hal yang baru. Menurut laporan, dari 35 bencana olahraga paling mematikan dalam sejarah, 63 persen terjadi di tengah pertandingan sepak bola, salah satu olahraga terpopuler di dunia.

Lalu apa saja tragedi paling buruk yang pernah terjadi? AKURAT.CO pada Senin (3/10) menghimpun tragedi pertandingan sepak bola paling berdarah di dunia, selain tragedi Kanjuruhan di Indonesia.

1. Kasus Stadion Mateo Flores Nat'l di Guatemala, 84 tewas
Semoga Jadi Pembelajaran 5 Kisah Tragedi Pertandingan Sepakbola Paling Berdarah Selain Kanjuruhan, 300 Lebih Nyawa Melayang  - Foto 1
 AP Archieve

Tragedi di Stadion Meteo Flores terjadi pada Rabu malam, 16 Oktober 1996. Pejabat Guatemala, seperti dilaporkan New York Times saat itu, mengatakan bahwa sedikitnya 84 orang telah tewas dan 147 lainnya luka-luka.

Kerusuhan itu dipicu oleh over kapasitas hingga perkelahian antar suporter, dengan konflik terjadi sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia. 

Digambarkan oleh History bagaimana pada saat kejadian, stadion diserbu hingga sekitar 60 ribu penggemar, dengan sebagian besar berpakaian biru dan putih, warna tradisional Guatemala. Sayang, stadion itu hanya berkapasitas 45 ribu orang. Rupanya, para agen yang tidak sah telah menjual ribuan tiket palsu kepada para penggemar.

Stadion pun sudah penuh sesak bahkan satu jam sebelum pertandingan dimulai. Para penggemar terus mendorong masuk ke dalam venue melalui lorong sempit. Karena orang-orang di depan mereka tidak punya ruang untuk bergerak, warga mulai berdesak-desakan dan akhirnya  mati lepas.