Lifestyle

5 Tips Mengatasi Kesedihan dan Depresi Akibat Tidak Lulus SBMPTN 2022, Akui Emosimu!

 Hasil ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SBMPTN ) 2022 akan diumumkan secara resmi pada Kamis (23/6/2022)


5 Tips Mengatasi Kesedihan dan Depresi Akibat Tidak Lulus SBMPTN 2022, Akui Emosimu!
Ilustrasi - 5 Tips mengatasi depresi akibat tidak lulus SBMPTN 2022 (Unsplash/Tim Gouw)

AKURAT.CO  Hasil ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SBMPTN ) 2022 akan diumumkan secara resmi pada Kamis (23/6/2022) tepat pukul 15.00 WIB.

Peserta dapat mengecek hasil pengumuman UTBK-SBMPTN 2022 melalui laman resmi LTMPT yakni https://pengumuman-sbmptn.ltmpt.ac.id/.

Ini tentu menjadi momen yang sangat mendebarkan untuk para peserta SBMPTN . 

baca juga:

Meskipun bukan menjadi pintu satu-satunya untuk menuju masa depan yang cerah, peserta yang telah mengikuti SBMPTN tentu mengharapkan hasil terbaik. Bahkan beberapa orang mungkin sangat menggantungkan harapannya pada SBMPTN. 

Lalu, bagaimana jika kamu ternyata gagal? 

Meskipun kesuksesan tidak selalu datang dengan mudah dan terkadang kita harus menghadapi kegagalan, ada banyak orang mengalami depresi setelah kegagalan ujian.

Ya, sebagian besar siswa ini mungkin telah menghadapi depresi selama waktu ujian dan hasilnya membuat mereka merasa gagal dan menyalahkan diri sendiri.

"Pola pikir tetap, keyakinan bahwa kegagalan adalah jalan buntu, bukan berhenti di jalan menuju perbaikan. Apa yang harus dimiliki adalah pola pikir berkembang, kemampuan untuk melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar," kata Carol Dweck, seorang profesor psikologi di Stanford, dikutip AKURAT.CO, Kamis (23/6/2022). 

Jika kamu telah gagal, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan untuk membantumu bangkit, dilansir dari berbagai sumber. 

Biarkan dirimu menjadi emosional

Kegagalan disertai dengan berbagai emosi, seperti malu, cemas, marah, sedih, dan malui, memang sangat tidak nyaman.

Dan banyak orang akan melakukan apa saja untuk menghindari perasaan tidak nyaman secara emosional.

Namun, manusia bukanlah robot. Jadi, sangat wajar untuk mengalami emosi seperti kesedihan, iri hati, depresi dan frustrasi ketika mengalami kegagalan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa menyangkal respons emosional dapat menghambat kinerja selanjutnya.

Peneliti yang dipimpin oleh Noelle Nelson di University of Kansas menemukan bahwa kegagalan menyebabkan kebanyakan orang memiliki pemikiran yang jauh dari rasional.

Pikiran cenderung bersifat defensif untuk melindungi harga diri. Ini mungkin dilakukan dengan pembenaran atau menyalahkan orang lain.

Saat mengalami kegagalan, kamu tidak bisa benar-benar berpikir secara rasional untuk memutuskan yang terbaik.

Jadi, ketika mengalami kegagalan maka, jangan mencoba memaksakan diri untuk menganalisis situasi dan bagaimana untuk langsung melakukan yang lebih baik.

Terimalah bahwa wajar untuk merasa emosional setidaknya untuk sementara waktu. Tunggu sampai respons emosional agak mereda sebelum mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Ungkapkan emosimu

Depresi setelah kegagalan ujian biasanya akan membuatmu menjadi tertutup dan mengurung diri. Jangan memendam emosimu alih-alih keluarkan melalui kata-kata.

Bicaralah dengan orang-orang, bicarakan dengan teman-temanmu. Kamu juga dapat berdiskusi dengan orang tua dan pelajari apa yang mereka lakukan untuk melawan kegagalan dan dapatkan saran dari guru tentang rencana studimu. 

Mundur selangkah dari situasi

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Ethan Kross dari Universitas Columbia menunjukkan bahwa teknik mental sederhana dapat membantu kita meninjau situasi dengan lebih efektif.

Data yang dikumpulkan selama percobaan menunjukkan bahwa siswa yang meninjau situasi dari perspektif jarak jauh merasa kurang marah dan kesal. Jadi, jika kamu perlu merenungkan situasi yang menyakitkan, ingatlah untuk melakukannya dari sudut pandang diri sendiri.  Dari perspektif yang lebih jauh ini, kamu mungkin lebih mampu merenungkan mengapa segala sesuatunya berubah menjadi seperti itu daripada sekadar menghidupkan kembali rasa sakit itu.

Fokus pada cara untuk bergerak maju

Dalam situasi ini, mungkin ada godaan untuk bertanya-tanya mengapa ada yang salah. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan di Institute of Psychiatry, bagian dari King's College London, menemukan bahwa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu mengapa segala sesuatunya berjalan buruk mungkin tidak bermanfaat bagi kesehatan mental.

Sebaliknya, fokus untuk bergerak maju akan membuatmu lebih produktif dan terhindar dari masalah kesehatan mental. 

Rawat dirimu

Mengalihkan perhatian atau mengisi kekosongan yang rasakan dengan makanan, obat-obatan, atau alkohol tidak akan menyembuhkan rasa sakit. Hal-hal itu hanya akan memberi kelegaan sementara, dan berujung pada masalah kesehatan. 

Oleh sebab itu, selain menjaga kondisi mental, pastikan pula untuk selalu merawat fisikmu. Konsumsi makanan sehat, berolahraga, minum air putih, dan tidur yang cukup. Ingat, apapun kegagalan yang kamu alami, jangan pernah lupa untuk merawat kesehatan fisik dan mental.