Lifestyle

5 Tanda Manipulasi Emosional

Manipulasi emosional terjadi ketika orang yang kasar atau manipulatif menggunakan taktik dan strategi khusus untuk mengendalikan, menguasai orang lain


5 Tanda Manipulasi Emosional
Ilustrasi - manipulasi emosional (Getty Images/Skynesher )

AKURAT.CO  Setiap pasangan kekasih pasti akan mengalami pertengkaran dan konflik. Namun, bagaimana jika pertengkaran tersebut terjadi terus-menerus dan berubah menjadi pelecehan emosional. Ya, pasangan mungkin saja selama ini telah melakukan manipulasi emosional kepadamu. 

Hal ini memang tidak menyebabkan luka secara fisik, namun ini sama bahayanya. Baik pelecehan emosional atau fisik, keduanya dapat berkontribusi pada rendahnya harga diri dan depresi. Sayangnya, pelecehan emosional tidak jarang terjadi. Sebuah survei Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2011 menemukan bahwa 47,1 persen wanita dan 46,5 persen pria pernah mengalami agresi psikologis dalam suatu hubungan.

"Manipulasi emosional terjadi ketika orang yang kasar atau manipulatif menggunakan taktik dan strategi khusus untuk mengendalikan, menguasai, atau mengorbankan orang lain," kata Janika Veasley, LMFT, pendiri Amavi Therapy Center. Hal ini dapat mengakibatkan pola kodependen yang tidak sehat, meminimalkan perasaan, kesulitan menegakkan batasan, dan masalah kepercayaan.

Sangat penting untuk menyadari tanda-tanda manipulasi dan pelecehan emosional sehingga kamu akan tahu apakah hubungan sudah tidak sehat dan berpotensi berbahaya. Berikut adalah lima tanda pelecehan emosional yang harus diwaspadai.

Menggunakan rasa tidak aman terhadap

Manipulator emosional dapat menggunakan rasa tidak aman, kekurangan, dan ketakutanmu untuk menjatuhkan kamu. Misalnya, mereka mungkin memunculkan rasa tidak aman ketika kamu sudah merasa sedih, atau menunjukkan kekuranganmu di depan orang lain. Atau, mungkin dalam bentuk backhanded compliment

"Jika pasangan berkata, 'Oh, saya suka pakaian kamu hari ini. Kamu tidak terlihat gemuk seperti biasanya', Kamu mungkin tidak akan menganggapnya sebagai pujian yang tulus. Kamu akan merasa terluka dan sangat terhina," kata Veasley.

Rasa bersalah sebagai taktik

Manipulator emosional mungkin menggunakan rasa bersalah terhadap kamu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Misalnya, dia secara konsisten mengingatkan kamu tentang kesalahan masa lalu, atau mengungkit hal-hal baik yang telah dia lakukan kepadamu.

"Kita semua kadang-kadang rentan terhadap rasa bersalah, dan beberapa menggunakan rasa bersalah tanpa menyadarinya. Namun, seorang manipulator emosional yang sangat terampil mampu menunjukkan dengan tepat bagaimana menanamkan perasaan itu pada orang-orang di sekitar mereka, dan menggunakannya untuk keuntungan mereka," kata Saba Harouni Lurie, LMFT dan pendiri Take Root.

 "Ini tidak hanya berfungsi untuk menanamkan rasa kewajiban, tetapi juga berfungsi untuk membuat kamu tetap terisolasi dari orang lain," kata Lurie.

Pasif-agresif

Ketika seseorang bersikap pasif-agresif, dia secara tidak langsung akan mengungkapkan pikiran atau perasaan negatifnya. Misalnya, pasangan mungkin menggunakan humor sarkastik, memberi kamu silent treatment, atau menolak untuk melakukan percakapan konstruktif tentang konflik kalian.

"Menemukan cara untuk mengekspresikan frustrasi atau ketidakpuasan tanpa benar-benar menyuarakan masalah apa pun dapat membuat pihak lain merasa tidak yakin, cemas, dan gelisah, yang merupakan kunci manipulasi secara keseluruhan," kata Lurie.

Mengubah tujuan

Ini adalah taktik manipulasi yang sering digunakan untuk membuat kamu merasa tidak stabil dan tidak aman dalam hubungan. Dengan taktik ini, pelaku dengan sengaja akan mempersulit kamu untuk menyenangkannya dengan sering mengubah permintaan dan keinginan.

Misalnya, pasangan mungkin mengatakan bahwa kamu perlu mendedikasikan satu malam dalam sepekan untuk hubungan tersebut. Setelah melakukannya, pasangan mengubah harapannya, dan mengatakan bahwa dia membutuhkan lebih banyak waktu dengan kamu,

Melanggar batas

Seorang manipulator mungkin akan sama sekali mengabaikan batasan kamu. Dia tidak akan peduli saat kamu mengatakan "tidak."

Misalnya, kamu telah memberi tahu pasangan bahwa kamu tidak suka ketika dia meneriaki kamu. Namun, pasangan terus saja melakukannya.

"Ketika pasangan dihadapkan pada batasan, dia melanggar batas, mendorong, atau sepenuhnya melanggar batas. Ini adalah bukti  bahwa satu-satunya yang penting adalah memenuhi keinginan dan mendapatkan kebutuhannya," kata Veasley.

Manipulasi emosional harus ditanggapi dengan sangat serius, dan kamu tidak boleh mengabaikan tanda-tanda ini.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa pelecehan emosional bukanlah kesalahan kamu. Jika kamu merasa sedang dimanipulasi, terbukalah kepada orang yang dicintai atau seorang profesional untuk mendapatkan bantuan. Selain itu, jangan segan untuk pergi dan keluar dari hubungan yang tidak sehat ini.[]