News

5 Sampah Luar Angkasa Paling Berbahaya, Terbanyak dari Rusia

Sampah Luar Angkasa Paling Berbahaya, Terbanyak dari Rusia


5 Sampah Luar Angkasa Paling Berbahaya, Terbanyak dari Rusia
Ilustrasi sampah luar angkasa (MIT News)

AKURAT.CO, Sampah tak hanya menjadi masalah di Bumi, tetapi juga telah mengotori luar angkasa. Berbeda dari sampah di Bumi, sampah antariksa berupa puing-puing teknologi yang sudah tak berfungsi lagi. Puing-puing itu mencakup 3 ribu satelit mati, 15 ribu pecahan kecil dari puing yang dapat dilacak, dan 150 ribu keping puing mematikan yang tak dapat dilacak.

Karena memiliki ancaman signifikan, 11 tim berbeda dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Rusia, China, Jepang, dan Eropa, mencoba menganalisis ribuan potongan sampah luar angkasa yang saat ini mengorbit Bumi. Mereka pun memutuskan objek mana yang punya risiko terbesar jika mereka bertabrakan. Objek dinilai berdasarkan peluangnya untuk bertabrakan dengan objek lain, massa, ketinggian, dan sejumlah faktor lainnya.

Laporan ini dipresentasikan di Kongres Internasional Astronautikal pada Oktober 2020.

Dilansir dari Forbes, ini 5 sampah luar angkasa paling berbahaya.

1. Roket pendorong SL-16 R/B

5 Sampah Luar Angkasa Paling Berbahaya, Terbanyak dari Rusia - Foto 1
Stackexchange

Dua puluh objek teratas dalam daftar itu meliputi seluruh roket pendorong besar yang diluncurkan oleh Rusia dan Uni Soviet (CIS) dari 1987 hingga 2007. Pendorong SL-16 R/B ini masing-masing punya berat 9 ribu kg dan mengorbit di ketinggian di atas 800 km. Jika dua perangkat ini bertabrakan, puing-puing yang dihasilkan bisa menjadi bencana besar.

Menurut Darren McKnight dari perusahaan AS Centauri sekaligus penulis utama laporan itu, tabrakan ini tetaplah mungkin terjadi. Namun, rasionya mencapai 1:1.000 setiap tahun. Pendorong-pendorong itu juga mengorbit bersama dalam satu klaster. Artinya, mereka berada di jalur orbit yang sama.

"Klaster ini telah terbentuk selama beberapa dekade dan probabilitas kumulatif tabrakannya meningkat setiap tahun," prediksi McKight.

2. Satelit Envisat