Lifestyle

5 Perayaan Maulid Nabi yang Unik dan Penuh Filosofi di Indonesia

Meskipun berbeda dalam bentuk perayaannya, berikut ini lima tradisi Perayaan Maulid Nabi di Indonesia yang unik dan penuh filosofi


5 Perayaan Maulid Nabi yang Unik dan Penuh Filosofi di Indonesia
Grebeg Maulud 2018 di Keraton Yogyakarta, warga antusias ikuti acara dan berebut gunungan (AKURAT.CO/ Rizzaq Nugroho)

AKURAT.CO, Sama halnya dengan bulan puasa yang lebih dikenal daripada bulan Ramadhan, yang merupakan nama resmi bulan kesembilan kalender hijriyah, banyak pula masyarakat Islam Indonesia yang lebih kenal bulan mulud (Maulid) daripada bulan bulan Rabiul Awal. Mengapa demikian?

Di Indonesia, umat Islam merayakan Maulid Nabi pada 5 - 12 Rabiul Awal dengan berbagai cara. Ragam perayaan itu pada umumnya didasarkan pada kebiasaan dan adat istiadat daerah setempat.

Meskipun berbeda dalam bentuk perayaannya, pada hakikatnya tradisi maulid tidak hanya sekedar sebagai pengingat sejarah kaum muslim, tapi tradisi ini juga sebagai pengingat umat muslim akan sosok Nabi Muhammad yang menjadi inspirasi bagi umat Islam.

Berikut ini lima tradisi Perayaan Maulid Nabi di Indonesia yang unik dan penuh filosofi, dirangkum Akurat.co dari berbagai sumber.

Kirab Ampyang

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia yang pertama adalah Kirab Ampyang, yang digelar di Desa Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah. Pada awalnya, kegiatan ini merupakan media penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Tradisi itu dilakukan oleh Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadirin. Tradisi ini digelar dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan ampyang atau nasi disertai krupuk, yang diarak keliling desa sebelum menuju ke Masjid Wali At Taqwa di Desa Loram Kulon.

Dalam tradisi ini, beberapa warga juga menampilkan sejumlah kesenian, seperti visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa pada saat berdirinya Desa Loram Kulon, serta teater tentang sejarah pendirian Masjid Wali At Taqwa.

Setelah sampai di Masjid Wali, tandu yang berisi nasi bungkus serta hasil bumi yang diarak keliling desa didoakan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga setempat untuk mendapatkan berkah.

Walima

Walima merupakan tradisi Maulid Nabi yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo secara turun temurun. Tradisi ini mulai ada sejak Gorontalo mengenal Islam, tepatnya pada abad XVII.

Walima merupakan tradisi lama yang hingga kini masih terpelihara dengan baik. Setiap masjid di seluruh Gorontalo melaksanakan tradisi ini. Warga akan mempersiapkan kue-kue tradisional, seperti kolombeng, curuti, buludeli, wapili, dan pisangi yang disusun dan diarak dari rumah menuju masjid terdekat.

Setiap kali perayaan ini, ratusan warga berkumpul dan menunggu di masjid. Mereka sudah siap untuk berebutan kue walima yang disediakan dalam memperingati Perayaan Maulid Nabi.

Setelah doa maulid di Masjid selesai, ribuan kue-kue tersebut direbut atau dibagi-bagikan kepada warga untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing, karena hal tersebut membawa sebuah keberkahan ketika mendapatkan makanan yang sudah didoakan.

Ngalungsur Pusaka

Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Perayaan Maulid Nabi dirayakan dengan melaksanakan upacara Ngalungsur, yaitu proses upacara ritual di mana barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat Suxi (Kian Santang) dibersihkan. 

Setiap setahun sekali, pada Perayaan Maulid Nabi, barang-barang itu dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangi, supaya tidak berkarat. Perayaan ini difokuskan di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabyupaten Garut.

Di Banten, kegiatan difokuskan di Masjid Agung Banten. Demikian pula di tempat-tempat ziarah makam para wali, tradisi ini juga digelar.

Upacara yang dilakukan oleh juru kunci ini merupakan bukti bahwa mereka masih melestarikan dan melaksanakan tradisi leluhurnya, serta mensosialisasikan keberadaan benda-benda pusaka peninggalan Sunan Rohmat Suci.

Pusaka tersebut merupakan simbol perjuangan dan perilaku Sunan Rohmat Suci semasa hidupnya memperjuangkan agama Islam. Benda-benda pusaka tersebut dicuci dengan disaksikan oleh peserta upacara.

Grebeg Maulud

Pada zaman Kesultanan Mataram, Perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Kata 'gerebeg' berarti mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton kerajaan menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.

Puncak peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masdjid Agung.

Setelah di masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan.

Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah, terutama bagi kaum petani. Mereka akan menanamnya di lahan persawahan untuk memperkuat doa, agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman.

Bungo Lado

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia selanjutnya ada Bungo Lado, yang berarti bunga cabai. Tradisi ini digelar di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Bungo lado merupakan pohon hias berdaunkan uang, yang bisa juga disebut dengan pohon uang. 

Untuk membuat bungo lado ini, uang kertas dari berbagai macam nominal itu ditempel pada ranting-ranting pohon, yang dipercantik dengan kertas hias.

Tradisi bungo lado menjadi kesempatan bagi warga perantau untuk menyumbang pembangunan rumah ibadah di daerah itu. Karenanya, masyarakat dari beberapa desa akan membawa bungo dari beberapa jorong (dusun).

Kemudian akan dikumpulkan. Uang yang terkumpul biasanya mencapai puluhan juta rupiah dan disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah. Tradisi maulid ini biasanya digelar secara bergantian di beberapa kecamatan.[]