News

5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah!


5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah!
Kolase foto warga negara asing yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Sudah sepantasnya jasa para pahlawan terus dikenang dan diteladani seluruh rakyat Indonesia. Pasalnya, berkat mereka, Indonesia berhasil meraih kedaulatannya sendiri dan bebas dari penindasan bangsa lain.

Ternyata mereka yang berjuang untuk Tanah Air tak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga sejumlah tokoh dari berbagai negara. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari kalangan militer penjajah. Namun, mereka justru memilih mendukung Indonesia, ikut berjuang bersama rakyat, bahkan rela mati di medan pertempuran. Meski bukan warga negara Indonesia, sudah sepantasnya mereka dianggap sebagai pahlawan Tanah Air.

Dihimpun AKURAT.CO dari berbagai sumber, ini 5 pejuang asing yang layak dianggap pahlawan Indonesia.

1. Maeda Tadashi

5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah - Foto 1
 Wikipedia

Nama Laksamana Muda Maeda Tadashi tak pernah luput dari catatan sejarah Indonesia. Setelah tanda-tanda kekalahan Jepang atas Sekutu makin jelas, penguasa berupaya menjaga status quo. Namun, tentara asal Jepang ini justru mendukung Indonesia mengupayakan kemerdekaannya. Ia bahkan ikut memfasilitasi para pemuda dan sejumlah tokoh dalam menyusun teks proklamasi.

Kesediaan Maeda menyediakan kediamannya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi menjadi bukti peran pentingnya dalam kemerdekaan Indonesia. Rumah Maeda di Jakarta pun dijadikan museum perumusan naskah proklamasi. Sementara itu, di tahun 1973, pemerintah Indonesia menganugerahinya Bintang Jasa Nararya.

2. Thomas Kingston Critchley

5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah - Foto 2
Sydney Morning Herald

Usai kekalahan Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, terjadi konflik status quo antara Indonesia dan Belanda. Australia pun menjadi salah satu negara yang mendukung kedaulatan Tanah Air. Saat PBB membentuk Komite Jasa Baik sebagai penengah konflik, Indonesia memilih Australia sebagai wakilnya. Saat itu Australia diwakili Richard C. Kirby yang kemudian digantikan diplomat muda bernama Thomas Kingston Critchley.

Pandangan antikolonial Critchley membuatnya dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia, termasuk dengan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. ketika sejumlah tokoh Tanah Air diasingkan ke Bangka akibat agresi militer II Belanda, ia secara pribadi mengunjungi dan menyemangati mereka.

Tak hanya itu, pria Australia ini memanfaatkan agresi militer Belanda untuk menekan Negara Kincir Angin itu di forum internasional. Berkat laporannya kepada PBB, para tahanan politik dibebaskan dan kedaulatan Tanah Air dipulihkan.

Critchley pun berandil besar dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Hasilnya, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia. Selanjutnya, Critchley menjadi duta besar Australia untuk Indonesia periode 1978-1981. Atas jasa-jasany, ia dianugerahi Bintang Dharma Putra di tahun 1992.

3. Tomegoro Yoshizumi

5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah - Foto 3
 Wikipedia

Kepala intelijen Kaigun Bukanfu (kantor penghubung Angkatan Laut Jepang) ini ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pascaproklamasi. Awalnya, ia mencuri barang di gudang Markas Besar Kaigun Bukanfu lalu menjualnya di pasar gelap. Uang hasil penjualannya pun diserahkan kepada Tan Malaka untuk dana perang gerilya.

Bersama Tan Malaka, ia pergi ke Banten, lalu ke Surabaya. Di Kota Pahlawan itulah ia berkomunikasi dengan Affandi, pemimpin serikat buruh galangan kapal dan memberi saran terkait pendirian pabrik senjata di sejumlah kota Jawa Timur.

Layaknya pejuang Tanah Air lainnya, Tomegoro gugur pada 10 Agustus 1948 di Blitar, Jawa Timur, saat bergerilya. Ia pun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Blitar, Jawa Timur.

4. Yang Chil-sung

5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah - Foto 4
Wikipedia

Saat Korea dijajah Jepang, banyak pemuda Negeri Ginseng direkrut militer Jepang. Salah satunya adalah Yang Chil-sung yang dikirim ke Pulau Jawa. Ia pun berganti nama menjadi Yanagawa Sichisci. Tahun 1946, bersama 4 tentara Jepang lainnya, Yang ditangkap Pasukan Pangeran Papak (PPP) Garut di bawah pimpinan Mayor Saoed Moestofa Kosasih. Awalnya, mereka akan dibunuh prajurit PPP, tetapi Kosasih mencegahnya karena menganggap mereka akan berguna bagi pasukannya.

Sekian lama hidup bersama PPP dan masyarakat Wanaraja, mereka terkesan pada perjuangan Indonesia, bahkan bersedia masuk Islam. Setelah mualaf, Yang Chil-sung berganti nama menjadi Komarrudin. Mereka pun ikut berjuang bersama PPP melawan Belanda. Nahas, pada Agustus 1948, ia ditangkap militer Belanda dan dihukum mati. Sempat dikebumikan di Pemakaman Pasirpogor, jasad Yang Chil-sung dipindahkan ke Taman Pahlawan Tenjolaya.

5. Ichiki Tatsuo

5 Pejuang Asing Ini Layak Dianggap Pahlawan Tanah Air, Ada yang dari Militer Penjajah - Foto 5
Wikipedia

Punya mimpi menjalankan studio foto terbesar di Asia Tenggara, pemuda Jepang ini berangkat ke Indonesia di tahun 1928 saat usinya masih 21 tahun. Awalnya, ia bekerja di studio foto milik teman sekampungnya di Palembang. Namun, di tahun 1933, Ichiki pindah ke Bandung, lalu tinggal di rumah seorang perempuan Indonesia asal Sumedang. Di sanalah ia menemukan kedamaian, bahkan merasa seperti orang Indonesia sesungguhnya.

Singkat cerita, Ichiki memperdalam kemampuan bahasa Indonesianya, mengikuti perkembangan politik, dan menerjemahkan artikel Jepang, lalu menjualnya ke koran-koran lokal. Ia pun bergabung dengan koran anti-Belanda, Toindo Nippo (Harian Hindia Timur). Bahkan, pemerintah Hindia Belanda menganggapnya sebagai ancaman.

Setelah Belanda terguling di tahun 1942, Ichiki kecewa negaranya melarang berbagai aktivitas politik. Kekecewaannya makin dalam saat Jepang takluk pada Sekutu. Pasalnya, perdana menteri Jepang berhanhi memberi kemerdekaan Indonesia, tetapi mengingkarinya dan memutuskan menjaga status quo. Ia pun memilih bergabung dengan para pejuang Indonesia untuk menentang tentara Sekutu. Ia berganti nama menjadi Abdul Rachman, pemberian H. Agus Salim saat menjadi penasihat Divisi Pendidikan Peta.

Nahas, pada 9 Januari 1949, Ichiki tewas di desa terpencil Dampit, dekat Malang, Jawa Timur, salah satu medan pertempuran paling sengit. Namanya pun tertulis di selembar teks dari Presiden Pertama Indonesia Soekarno yang tersimpan di biara Buddha Shei Shoji, Tokyo.

"Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno."

Terima kasih para pahlawan. Jasamu akan selalu dikenang sepanjang masa.[]