Rahmah

5 Kriteria Sahabat yang Baik Menurut Imam Al-Ghazali

Kriteria ini penting dipertimbangkan Anda yang ingin hidup bahagia


5 Kriteria Sahabat yang Baik Menurut Imam Al-Ghazali
Ilustrasi persahabatan (BOLDSKY.COM)

AKURAT.CO  Dalam hidup kita tidak bisa lepas dari yang namanya persahabatan. Manusia merupakan makhluk sosial, sehingga selalu membutuhkan orang lain untuk berinteraksi satu sama lain.

Namun kadang, kita salah menentukan sahabat. Seseorang yang kita percayai, di kemudian hari menghianati. Bukannya memberikan solusi atas masalah kita, justru menambah beban dalam hidup.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayah Al-Hidayah halaman 90-92 menyebutkan lima kriteria sahabat yang baik. Sebagai berikut:

1. Perhatikan Akalnya

فإذا طلبت رفيقا ليكون شريكك في التعلم، وصاحبك في أمر دينك ودنيا فراع فيه خمس خصال: الأولى: العقل: فلا خير في صحبة الأحمق، فإلى الوحشة والقطيعة يرجع آخرها، وأحسن أحواله أن يضرك وهو يريد أن ينفعك، والعدو العاقل خير من الصديق الأحمق 

Artinya: “Bila kau ingin mencari sahabat yang menemanimu dalam belajar, atau mencari sahabat dalam urusan agama dan dunia, maka perhatikanlah lima hal ini. Pertama, akalnya. Tiada mengandung kebaikan persahabatan dengan orang dungu. Biasanya berakhir dengan keengganan dan perpisahan. Perilaku terbaiknya menyebabkan kemudaratan untukmu, padahal dengan perilakunya dia bermaksud agar dirinya berarti untukmu. Peribahasa mengatakan, ‘Musuh yang cerdik lebih baik daripada sahabat yang dungu,."

2. Perhatikan Akhlaknya

الثانية: حسن الخلق: فلا تصحب من ساء خلقه، وهو الذي لا يملك نفسه عند الغضب والشهوة 

Artinya: “Kedua, akhlak yang baik. Jangan bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, yaitu orang yang tidak sanggup menguasai diri ketika sedang marah atau berkeinginan."

3. Pertimbangkan Kesalehannya

الثالثة: الصلاح: فلا تصحب فاسقا مصرا على معصية كبيرة، لأن من يخاف الله لا يصر على كبيرة، ومن لا يخاف الله لا تؤمن غوائله، بل يتغير بتغير الأحوال والأعراض، 

Artinya: “Kesalehan. Jangan bersahabat dengan orang fasik yang terus menerus melakukan dosa besar karena orang yang takut kepada Allah takkan terus menerus berbuat dosa besar. Orang yang tidak takut kepada Allah tidak bisa dipercaya perihal kejahatannya. Ia dapat berubah seketika seiring perubahan situasi dan kondisi."

Sumber: Nu Online