News

5 Kerusuhan Paling Mematikan Sepanjang Masa, Ratusan Ribu Orang Meregang Nyawa

5 Kerusuhan Paling Mematikan Sepanjang Masa, Ratusan Ribu Orang Meregang Nyawa
Foto menunjukkan peristiwa kerusuhan selama protes Konvensi Nasional Demokrat, AS tahun 1968 (Bettmann/Contributor)

AKURAT.CO Kerusuhan telah terjadi sepanjang sejarah manusia, dengan korban yang berjatuhan bahkan tidak terhitung jumlahnya. Bagaimanapun, insiden kerusuhan harus tetap dijadikan pelajaran, lantaran setiap nyawa manusia itu sejatinya berharga. 

Baru-baru ini, Tragedi Kanjuruhan telah menjadi sorotan dunia, di mana kekerasan dan tindakan represif hanya berbuntut pada malapetaka. Meskipun skala kerusuhan terkadang lebih kecil daripada perang, tetapi insiden seperti ini akan selalu menjadi contoh ekstrem di mana jumlah nyawa manusia yang hilang sangat luar biasa.

Dari begitu banyaknya kerusuhan berdarah sepanjang sejarah, AKURAT.CO pada Rabu (5/10) menghimpun 5 kerusuhan paling mematikan sepanjang masa.

baca juga:

1. La Matanza di El Salvador tahun 1932, 30 ribu kematian
Ratusan Ribu Orang Meregang Nyawa, 5 Kerusuhan Paling Mematikan Sepanjang Masa - Foto 1
 Destinychildren.org

La Matanza adalah bahasa Spanyol, yang jika diterjemahkan menjadi 'Pembantaian'. Tragedi ini mengacu pada etnosida yang terjadi selama tahun 1932 di El Salvador, di mana kerusuhan sosial yang melibatkan pemerintah dan pemberontakan petani pribumi akhirnya mengorbankan hingga puluhan ribu orang.

Kerusuhan sosial di El Salvador tercatat mulai tumbuh pada tahun 1920-an, terutama karena dugaan penyalahgunaan kelas politik, dan kesenjangan sosial yang luas antara pemilik tanah dan etnis Pipil.

Selama paruh kedua tahun 1800-an, kopi menjadi salah satu ekspor terbesar El Salvador, yang menyebabkan para tuan tanah mengumpulkan sebidang tanah yang luas untuk memulai perkebunan. Bagaimanapun, ini memiliki efek samping yang tidak menguntungkan, yang memperlebar jurang antara kaya dan miskin. Para pribumi yang dijadikan buruh petani, bekerja di lingkungan yang buruk. Ada pula yang terpaksa meninggalkan tanah mereka dan menjadi sangat miskin.  

Setelah jatuhnya pasar saham tahun 1929 dan Depresi Hebat, pasar kopi anjlok, menyebabkan keruntuhan total ekonomi El Salvador. Pasukan petani, yang dipimpin oleh Agustín Farabundo Marti, memberontak dan menuntut perubahan segera. 

Namun, yang terjadi selanjutnya justru adalah mimpi buruk,  rangkaian kerusuhan yang berlangsung hingga lima bulan lebih. Militer, serta polisi setempat, memulai serangkaian penindasan brutal, hingga lahirlah istilah La Matanza. Siapapun yang terlihat pribumi dibantai secara brutal. Bahkan, dilaporkan mereka diserang meski hanya karena mengenakan pakaian tradisional. 

Perkiraan bervariasi untuk jumlah kematian. Namun, sejumlah laporan menyebut sekitar 30 ribu orang dibantai dalam peristiwa kelam tersebut. Sebagian besar orang yang terbunuh selama La Matanza adalah petani etnis Pipil dan non-pejuang. Banyak pemimpin pemberontakan, termasuk pemimpin petani Feacano Ama dan Martí, dieksekusi oleh militer. Kekejaman pemerintah juga memaksa beberapa intelektual untuk melarikan diri dari negara dan pergi ke pengasingan.