News

5 Fakta Penting Harmoko, Pendiri Koran Pos Kota hingga Jabat Menteri Penerangan 14 Tahun

Harmoko tidak hanya dikenal sebagai sosok kepercayaan Soeharto tetapi juga sosok yang berani melawan pendapat Soeharto.


5 Fakta Penting Harmoko, Pendiri Koran Pos Kota hingga Jabat Menteri Penerangan 14 Tahun
Harmoko, Menteri Penerangan RI era Seharto. (Foto: Buku "25 Tahun Pembangunan Pemerintah Orde Baru" via Wikipedia) ()

AKURAT.CO, Partai Golkar kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Menteri Penerangan Indonesia, Harmoko meninggal dunia pada hari Minggu (4/7) pada pukul 20.22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto. Pemilik nama lengkap Harmoko bin Asmoprawiro ini mengembuskan napas terakhirnya di usia 82 tahun. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta penting terkait perjalanan karier Harmoko. 

1. Awali karier sebagai wartawan

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Harmoko memutuskan untuk bekerja sebagai wartawan sekaligus kartunis di koran Harian Merdeka dan Majalah Merdeka. Setelah itu, dirinya meneruskan karier jurnalistiknya di harian Angkatan Bersenjata pada tahun 1964 dan Harian API pada tahun 1965. Bahkan, ketika itu pria kelahiran Nganjuk ini juga menjadi pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko, pada tahun 1965 dan Mimbar Kita tahun 1966-1968.  

2. Dirikan Pos Kota

Sebelum lahir, Pos Kota adalah hasil dari sebuah survei yang dilakukan oleh Harmoko kepada sejumlah penduduk di Jakarta terutama di daerah Tanjung Priok, Tanah Abang, Senen, hingga Jatinegara. Dari hasil survei tersebut, politisi senior ini memutuskan untuk membuat sebuah koran yang menyediakan berita persoalan keseharian mulai dari kriminalitas,  seksualitas, olahraga dan hukum. Akhirnya, pada tanggal 15 April 1970, Harmoko dan rekannya Jahja Surjawinata, Tahar S. Abiyasa dan Pansa Tampubolon menerbiktan 3.500 eksemplar koran Pos Kota. 

3. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia hingga Menteri Penerangan

Dengan capaian yang luar biasa, tak heran jika akhirnya Harmoko dipilih menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Setelahnya, dirinya juga diangkat menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1983 dalam masa Kabinet Pembangunan IV. Bahkan, dirinya menjabat Menteri Penerangan di era Orde Baru selama sekitar 14 tahun. Setelah turun dari kursi kementerian, Harmoko juga sempat menjabat Ketua Umum Golkar periode tahun 1993-1998. Bahkan, pada periode pemerintahan Soeharto ke-7, dirinya ditunjuk sebagai Ketua MPR pada tahun 1997 hingga 1999. 

4. Kelompencapir hingga Temu Kader

Semasa menjabat, Harmoko dikenal dengan sejumlah gagasan dan programnya. Salah satunya adalah gerakan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pirsawan). Awalnya, kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan petani dan nelayan berprestasi di Indonesia yang kemudian diadu kepintarannya seperti dalam ajang cerdas cermat. Namun akhirnya, gerakan ini juga dilakukan untuk menyebarkan informasi dari pemerintahan. Pria kelahiran 7 Februari 1939 ini juga memopulerkan Safari Ramadan dan Temu Kader. 

5. Meninggal dunia di usia 82 tahun

Harmoko meninggal dunia pada hari Minggu (4/7) pukul 20.22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto. Meninggal di usia 82 tahun, kabar ini pun telah dikonfirmasi oleh sejumlah tokoh seperti Ketua DPP Golkar, Dave Laksono. Jenazah Menteri Penerangan era Soeharto ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan pada hari Minggu lalu. 

Harmoko tidak hanya dikenal sebagai sosok kepercayaan Soeharto tetapi juga sosok yang berani melawan pendapat Soeharto. Setelah dirinya sebagai seorang mantan wartawan menyampaikan pemberedelan terhadap sejumlah koran, Harmoko juga yang menyatakan dukungan agar Soeharto mengundurkan diri.[]