Ekonomi

5 Fakta Penting Dugaan Kasus Investasi Bodong 212 Mart, Kerugian Capai Rp2 Miliar!

Kasus investasi bodong yang dilakukan oleh sebuah merek minimarket berkonsep syariah, 212 Mart kini sedang menjadi sorotan.


5 Fakta Penting Dugaan Kasus Investasi Bodong 212 Mart, Kerugian Capai Rp2 Miliar!
Gerai 212 Mart. (Antara Photo)

AKURAT.CO, Kasus investasi bodong yang dilakukan oleh sebuah merek minimarket berkonsep syariah, 212 Mart kini sedang menjadi sorotan. Pasalnya, sejumlah orang menyatakan bahwa dirinya sebagai korban penipuan dengan total kerugian mencapai Rp2 miliar. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta penting terkait penipuan 212 mart. 

1. Didirikan dari aksi 212

Pada Desember 2016 lalu, setelah aksi 212 diselenggarakan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk sebuah koperasi syariah bernama 212. Bahkan, pada awal tahun 2017 lalu, pendaftarannya langsung dibuka. Dari sinilah, koperasi berbentuk swalayan dengan nama 212 Mart mulai muncul dan merebak di berbagai penjuru Indonesia. 

2. Swalayan dengan bentuk koperasi

Sejak awal pendiriannya, 212 Mart memang berbentuk toko swalayan yang dibentuk dengan asas koperasi. Berbagai kebutuhan sehari-sehari dijual dalam 212 Mart tersebut mulai dari bahan pokok, kelengkapan rumah tangga, hingga alat tulis. Namun, swalayan ini tidak menjual rokok hingga berbagai minuman keras. Sasaran utamanya adalah bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di seluruh wilayah Indonesia. 

3. Diawali dari tautan WA

Sejumlah warga di Kalimantan Timur melaporkan dugaan investasi bodong yang dilakukan oleh 212 Mart. Ajakan investasi diawali pada tahun 2018 silam melalui tautan WhatsApp. Melalui tautan tersebut diketahui jika pembentukan toko dilakukan dengan metode pengumpulan dana investasi dengan nilai Rp500 ribu hingga Rp20 juta. Setelah memiliki dana senilai Rp2 miliar, terbentuklah 3 unit toko di sejumlah lokasi di Kalimantan TImur. 

4. Curiga sejak awal tahun 2020

Kecurigaan mulai menguat ketika pada awal tahun 2020 lalu, sejumlah gerai mulai tutup. Selain itu, sejumlah tagihan juga tidak terbayarkan, mulai dari tagihan supplier hingga sewa ruko. Bahkan, sejumlah pegawai juga tidak dibayarkan. Selain itu, laporan keuangan yang ada pun dibuat dengan cara asal-asalan. 

5. Korban 600 orang dengan nilai capai Rp2 miliar

Sejumlah warga yang melaporkan tersebut didampingi oleh LB Lentera Borneo. Sedangkan para warga tersebut menyatakan bahwa keseluruhan korban mencapai 600 orang, namun yang melaporkan resmi baru 13 orang. Sedangkan kerugiannya mulai dari Rp25 juta hingga Rp2 miliar. Di sisi lain, empat orang pengurus Komunitas Koperasi Syariah 212 Mart juga dinyatakan sulit dihubungi. 

Hingga kini, kasus tersebut masih berada dalam penyelidikan. Pihak kepolisian juga telah membentuk tim untuk menyelidiki kasus dugaan investasi bodong ini.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu