News

5 Fakta Mengejutkan Pasutri Penjual Bakso Ayam Tiren, Beraksi Selama 7 Tahun!

Fakta pasutri penjual bakso ayam tiren asal Bantul.


5 Fakta Mengejutkan Pasutri Penjual Bakso Ayam Tiren, Beraksi Selama 7 Tahun!
MHS dan AHR di Mapolres Bantul, DIY, Senin (24/1/2022) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Pasangan suami istri (pasutri) yang berasal dari Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tersangka atas perdagangan bakso ayam tiren (mati kemaren). Pasangan berinisial MHS dan AHR tersebut bahkan diketahui telah melakukan praktik penjualan bakso ayam tiren tersebut selama bertahun-tahun. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumalh fakta penting terkait bakso ayam tiren dari pedagang Bantul. 

1. Warga temukan ayam tiren di tempat penggilingan

Kasus mulai terbongkar ketika warga menemukan sejumlah ayam tiren siap giling di sebuah tempat penggilingan di wilayah Pleret, Bantul. Sedangkan pelaporan dilakukan oleh pemilik penggilingan daging yang menyatakan bahwa salah satu pelanggannya ada yang menggiling daging ayam tidak segar, ayam sudah berbau, bahkan berwarna kebiruan. Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan Bantul, polisi mulai melakukan penyelidikan di lapangan.

baca juga:

2. Temukan ayam tiren dan bakso siap jual

Petugas gabungan kemudian langsung menggerebek tempat usaha milik MHS dan AHR. Hasilnya, polisi menemukan sejumlah barang bukti termasuk 2 freezer, mesin pembuat adonan, genset, timbangan, tabung gas, hingga kompor. Selain itu ada juga 18 plastik dengan isi 15 pentol bakso, 9 plastik berisi 5 pentol berukuran sedang, dan 3 plastik berisi 12 pentol berukuran besar. 

3. Untung hingga Rp500 ribu sehari

Setelah ditangkap dan diinterogasi, pasutri asal Bantul tersebut menyatakan bahwa dalam sehari, keduanya bisa memproduksi 35 kilogram daging ayam tiren menjadi 75 kilogram bakso ayam. Sedangkan satu kilogram ayam tiren dibeli dengan harga Rp7 ribu hingga Rp8 ribu. Dengan hasil tersebut, keduanya menyatakan bisa meraup keuntungan mencapai Rp500 ribu per harinya. 

4. Dijual di tiga pasar selama 7 tahun

Pasangan ini mengaku telah membuka usaha bakso sejak 2010 silam. Namun ketika itu, keduanya masih menggunakan ayam segar. Ketika harga ayam terus melonjak, pada tahun 2015 silam, keduanya nekat untuk memproduksi bakso dengan ayam tiren. Dengan begitu, keduanya telah beroperasi selama 7 tahun. Sedangkan tempat pemasarannya ada di tiga pasar yaitu Pasar Demangan, Pasar Kranggan dan Pasar Giwangan yang merupakan tiga pasar besar di Kota Yogyakarta. Banyak pelanggannya yang tidak tahu karena bakso tersebut dijual dengan bungkus tanpa nama. 

5. Mengaku senang ditangkap

Setelah ditangkap, MHS mengaku bahwa ia menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada masyarakat yang telah dirugikannya. Di sisi lain, ia dan istrinya juga mengaku bersyukur dan senang setelah ditangkap oleh polisi karena ia tidak lagi perlu lagi melakukan kejahatan tersebut dan tidak perlu memberikan penjelasan kepada tetangga atau pelanggannya. Ia pun mengaku perbuatannya salah dan siap dengan segala risikonya. 

Dengan aksi yang dilakukannya tersebut, pasangan suami istri ini dijerat pasal berlapis tentang perlindungan konsumen dan tentang pangan dengan ancaman hingga 15 tahun penjara.[]